User blogs

Tag search results for: "industri seks"
Hendy Kusmarian
Kerja Seks Berarti: Menjelajahi Uang, Kekuasaan, dan Kemesraan dalam Industri Seks
diedit oleh Melissa Hope Ditmore , Antonia Levy, dan Alys Willman
 
Hak Cipta © 2010 Melissa Hope Ditmore , Antonia Levy dan Alys Willman
 
Isi
 
KATA PENGANTAR
Pendahuluan: Di Luar Seks dalam Pekerjaan Seks
A DI LUAR KUBU-KUBU: KERANGKA BARU UNTUK MEMAHAMI INDUSTRI SEKS
1 Kerja Seks Sekarang: Apa Arti Kaburnya Batas-Batas di Sekitar Industri Seks bagi Kerja, Penelitian, dan Aktivisme Seks
2 Kebutuhan (Mendesak) bagi Jenis-Jenis Penelitian Berbeda
3 Makna 'Pelacur': Bagaimana Teori-Teori Feminis tentang Pelacuran Membentuk Penelitian tentang Para Pekerja Seks Perempuan
B MENGELOLA BEBERAPA PERAN
4 Mencintai, Menghargai, dan Melucuti: Penyelidikan Hubungan Asmara Penari Eksotis
5 Seks dan yang Tak Terucapkan dalam Pelacuran Jalanan Pria
6 Ke(ab)normalan yang ditegakkan: hijrah pekerja seks dan penggunaan (ulang) identitas lelaki/perempuan
C UANG DAN SEKS
7 Ayo Bicara Tentang Uang
8 Perlihatkan Aku Uangnya: Seorang Pekerja Seks Merenungkan Penelitian tentang Industri Seks
9 Menjual Seks: Partisipasi Perempuan dalam Industri Seks
D KERJA SEKS DAN NEGARA
10 Memucikari Pueblo: Seks Komersial yang Diatur Negara di Meksiko Neoliberal
11 Gadis-Gadis Menyimpang, Para Pengusaha Kecil, dan Pengaturan Para Pekerja Seks Jerman
12 Kerja, Komunitas, dan Kebijakan Publik Seks di Inggris
E MENGORGANISIR DI LUAR KUBU-KUBU
13 Aktivisme Hak-hak Pekerja Seks di Eropa: Orientasi dari Brussel
14 Kesimpulan: Mendorong Batas-Batas dalam Aktivisme dan Penelitian Kerja Seks
 
Kata pengantar
Alys Williams dan Antonia Levy
 
Seperti begitu banyak proyek sastra dan ilmiah yang hebat, Kerja Seks Berarti dicetuskan di sebuah kedai kopi. Suatu sore di musim semi pada 2005, kami berdua duduk meratapi sangat sedikitnya peluang yang tampaknya ada untuk bertemu orang lain yang tertarik dalam penelitian tentang kerja seks. Kami sepakat bahwa sepertinya kami selalu diasingkan ke suatu panel tentang 'gender,' atau 'kemiskinan,' atau 'penyimpangan' dalam konferensi-konferensi di mana kami menyajikan, seolah-olah kerja kami adalah suatu topik yang menarik, tetapi hanya minat tipis. Atau lebih buruk, kami ditempatkan pada suatu panel tentang perdagangan dan dibiarkan menjelaskan bagaimana kerja kami berbeda, dan bagaimana kerja seks secara umum bukanlah perdagangan, dan sebagainya.
 
Dari keluhan-keluhan timbal balik ini lahir ide untuk menyelenggarakan suatu konferensi hanya tentang kerja seks, sebagai kesempatan bagi kami untuk melihat pekerjaan macam apa yang sedang dilakukan di tempat-tempat berbeda, dan untuk bertemu orang-orang yang darinya kami dapat belajar dan bekerja. Kami ingin mengumpulkan para pekerja seks, cendekiawan, dan aktivis (dan mereka yang masuk dalam lebih dari satu kategori ini) untuk menjajaki isu-isu yang paling penting bagi mereka. Kami membayangkan urusan setengah-hari dengan beberapa mahasiswa pascasarjana dan aktivis dari New York, atau mungkin sejauh Washington, DC. Kami menggambar bra yang tergantung di tiang bendera di balik sehelai serbet sebagai logo kami, dan memutuskan untuk terus bertemu. Kami yakin seseorang akan mendanai ide bagus kami.
 
Tidak ada yang ingin mendanai kami atau, setidaknya, tidak ada yang punya uang. Selama delapan bulan berikutnya kami mengemis dari satu departemen akademik dan organisasi feminis ke lainnya, hanya untuk mendengar bahwa tidak ada uang. Akhirnya kami mampu meyakinkan Pusat Studi Perempuan dan Masyarakat di Pusat Pascasarjana City University of New York (CUNY) bahwa kami serius, dan dalam satu pertemuan cappuccino direkturnya telah membawa masuk konsorsium studi-studi perempuan antar-universitas sekitar $2.000. Beberapa ratus dolar lagi dari berbagai organisasi mahasiswa pascasarjana dan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang kekurangan uang, dan sejumlah dukungan logistik dari kantor kegiatan mahasiswa The New School, New York, dan kami berjalan.
 
Hari konferensi adalah ledakan dalam keragaman dan debat. Para penyaji—52 orang dari tiga belas Negara—mewakili pengalaman-pengalaman para pekerja seks, penampil, aktivis, blogger, pelajar, guru, orang tua, dan mitra. Diskusi-diskusi mendorong batas-batas debat-debat saat ini untuk membahas pekerjaan seks dalam konteks kekuasaan, politik, diskriminasi, dan hak-hak buruhnya yang lebih luas. Partisipasi banyak akademisi yang terkenal, cendekiawan dan aktivis muda dan inovatif, serta para aktivis lama termasuk Carol Leigh, Priscilla Alexander, dan Robyn Few sebagai panelis dan peserta aktif, menciptakan lingkungan yang merangsang dan unik untuk pertukaran pikiran. Percakapan hidup dan jujur, terkadang menyerempet agresif. Para aktivis menunjukkan di mana kaum akademisi jauh dari sentuhan. Para akademisi berjanji untuk melakukan lebih banyak penelitian dalam koordinasi dengan para pekerja seks. Semua orang setuju perlu ada lebih banyak diskusi dan penggambaran atas pembagian golongan dalam pekerjaan seks dengan mendekati para pekerja jalanan, dan pekerja seks di negara-negara berkembang. Ini, tentu, menunjukkan perlunya lebih banyak dana untuk proyek-proyek seperti ini.
 

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan sulit diajukan, dan masalah-masalah rumit dibahas, dan bahkan hal-hal yang memalukan dikatakan. Di meja bundar terakhir, di mana 150 orang berdesakan dalam ruang konferensi kecil (ruang berdiri saja) untuk membahas pokok-pokok utama hari itu, beberapa aktivis memasuki perdebatan sengit tentang ke mana gerakan ini harus melangkah dari sini. Dan lalu, diam-diam, seorang mahasiswi dari Brooklyn College berdiri dan mengajukan sebuah pertanyaan yang membungkam ruangan. "Saya tidak mengerti tujuan akhirnya,' katanya. 'Maksudnya, apa yang anda inginkan untuk masa depan, misalnya, bagi para pekerja seks yang belum lahir?'


Terjadi keheningan lama, dan meskipun sebagian dari para aktivis yang sama menyahut untuk menegaskan bahwa ya, memang mereka sedang bekerja untuk para pekerja seks yang belum lahir, agar mereka bisa memiliki kondisi-kondisi kerja yang lebih baik, ketidaknyamanan itu terasa. Mulai mereka yang paling merayakan kerja seks sampai orang-orang yang lebih pragmatis di ruangan itu, yang menyadari pelacuran akan selalu ada selama permintaan ada, semua tampak enggan untuk meladeni gagasan pekerja seks yang belum lahir, setidaknya di dunia seperti sekarang. Apakah karena kita semua memiliki sedikit jiwa abolisionis di dalam diri kita? Apakah karena citra seorang pekerja seks yang belum lahir menyiratkan terlalu banyak predeterminasi, bahkan paksaan? Bisakah Anda mendukung para pekerja seks dan masih tidak tenang dengan pikiran seorang anak, puteri atau putera Anda mungkin, tumbuh besar menjadi pekerja seks? Bisakah Anda mendukung para pekerja seks dan tetap percaya seharusnya ada lebih banyak pilihan untuk dipilih? Bisakah kita membayangkan dunia di mana pekerjaan seks adalah pilihan pekerjaan yang aman, bahkan terhormat?

 

Di sinilah, mungkin, ada titik awal bagi percakapan-percakapan dan kolaborasi-kolaborasi mendatang untuk menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi. Buku ini menemukan tempatnya dalam suatu gerakan internasional yang tumbuh untuk hak-hak para pekerja seks dan agenda penelitian yang meluas untuk isu-isu yang memengaruhi mereka. Bidang pekerjaan seks terbuka lebar bagi para akademisi yang mau terlibat dalam penelitian kolaboratif dengan para pekerja seks. Para aktivis menghadapi tugas bekerja sama dengan para peneliti dengan cara-cara yang memajukan agenda progresif dan memerangi stigma sosial, dan membantu menghubungkan gerakan hak-hak pekerja seks dengan gerakan-gerakan sosial yang lebih luas. Sebuah tantangan juga menanti para penyandang dana, yang sebagian besar telah menghindari proyek-proyek yang berhubungan langsung dengan kerja seks, untuk mendanai penelitian dan mendukung aktivisme yang menangani pekerjaan seks dalam dimensi sosial, ekonomi, dan politiknya. Kami membayangkan buku ini sebagai sebuah langkah penting menuju membahas tantangan-tantangan ini, dan menjadikannya peluang.


Unduh GRATIS Sex Work Matters (1,3 Mb)


Hendy Kusmarian
Vagina Industri: Ekonomi Politik Perdagangan Seks Global

Industrialisasi prostitusi (pelacuran) dan perdagangan seks telah menciptakan pasar global bernilai miliaran dolar, yang melibatkan jutaan wanita, yang memberi sumbangan besar bagi ekonomi-ekonomi nasional dan global.

The Industrial Vagina meneliti bagaimana pelacuran dan aspek-aspek lain dari industri seks telah berubah dari sebagai praktik-praktik skala kecil, gelap dan yang dibenci secara social menjadi sektor-sektor pasar sah yang sangat menguntungkan yang sedang dilegalkan dan dibenarkan oleh banyak pemerintah. Sheila Jeffreys menunjukkan bagaimana prostitusi telah diglobalisasi melalui
pengkajian:

• pertumbuhan pornografi dan jangkauan globalnya yang baru
• menjamurnya toko-toko dewasa, klub-klub tari telanjang dan agen-agen pendamping
• prostitusi militer dan kekerasan seksual dalam perang
• pernikahan dan industri pengantin pesanan melalui pos
• meningkatnya pariwisata seks dan perdagangan perempuan

Dia berpendapat bahwa melalui praktik-praktik ini, ketundukan kaum perempuan telah dialihdayakan dan bahwa negara-negara yang melegalkan industri ini sedang bertindak sebagai germo, yang memungkinkan para laki-laki pembeli di negara-negara di mana kesetaraan kaum perempuan mengancam dominasi laki-laki untuk membeli akses ke tubuh kaum perempuan dari negara-negara miskin yang dibayar untuk kepatuhan seks mereka.

Kontribusi besar dan provokatif ini adalah bacaan penting bagi semua orang yang berminat pada isu-isu perempuan, gender dan globalisasi kritis juga para mahasiswa dan sarjana ekonomi politik internasional.

Sheila Jeffreys adalah Profesor di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Melbourne. Dia adalah penulis enam buku lain tentang sejarah dan politik seksualitas, termasuk Beauty and Misogyny (Routledge, 2005). Dia adalah anggota pendiri Koalisi Menentang Perdagangan Perempuan cabang Australia.

Isi

Pendahuluan: dari berlaku sebagai mucikari menjadi sektor pasar menguntungkan
1 Para pejuang hak wanita dan industri seks global: pemandu sorak atau kritikus?
2 Pernikahan dan pelacuran
3 Ekonomi politik internasional pornografi
4 Ledakan klub tari telanjang  
5 Pelacuran militer
6 Wisata prostitusi: kaum perempuan sebagai kesenggangan kaum pria
7 Memasok permintaan: perdagangan wanita
8 Negara sebagai mucikari: melegalkan prostitusi
9 Kesimpulan: memutar kembali industri seks global


Unduh GRATIS The Industrial Vagina (1,36 Mb)