Perpornoan Amerika: Kebangkitan Budaya Porno, Apa Artinya, dan Ke Mana Kita Pergi Dari Sini from Hendy Kusmarian's blog

Perpornoan Amerika: Kebangkitan Budaya Porno, Apa Artinya, dan Ke Mana Kita Pergi Dari Sini
Carmine Sarracino dan Kevin M. Scott © 2008
 

Isi


Pendahuluan
1 Menormalkan Kaum Pinggiran
2 Bangsa Para Bintang Porno
3 Popping Rosie's Rivets: Porno di Masa Lalu
4 Para Teladan Porno: Memajukan Garis Depan Porno
5 Anda Mau Porno dengan Burger Itu?
6 Nexusnya Porno dan Kekerasan: Abu Ghraib dan Setelahnya
7 Kaum Wanita dan Porno
8 Ke Mana Kita Pergi Dari Sini
 
Pendahuluan


Sebagai profesor di perguruan tinggi, kami biasanya menulis tentang mata pelajaran yang kami pegang erat-erat: obyektif, intelektual, tidak memihak. Namun tidak demikian dalam buku ini. Kami adalah bagian dari—terlibat dalam, menjalani—fenomena yang kami gambarkan sebagai perpornoan Amerika. Kami adalah lelaki Amerika, suami, dan orang tua dari anak-anak kecil, masing-masing dari kami ayah dari seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki. Berjalan-jalan di mal minggu lalu, salah satu dari kami menemukan sesuatu yang sebelumnya hanya kami baca: pakaian dalam bikini untuk gadis-gadis kecil. Yang lain baru-baru ini melihat putrinya yang berusia empat tahun, merangkak, menonton iklan televisi untuk boneka Bratz, yang terlihat sangat mirip pelacur. Putra-putra kami, delapan dan sepuluh tahun, berpura-pura tidak tahu apa-apa ketika iklan seperti itu muncul di stasiun kartun mereka, tetapi kami telah melihat mereka mencuri pandang sekilas, dan bahkan melotot, mata terpaku, ketika mereka tidak tahu mereka sedang diawasi.

 
Bagaimana bisa kami, sebagai ayah yang juga lelaki seksual, menyalahkan mereka? Kami juga menghargai daya tarik dari bentuk perempuan dan seks. Dan kami bersyukur bahwa anak-anak kami akan tumbuh dalam suasana kebebasan seks yang akan membebaskan mereka dari sebagian besar ketidaktahuan, kemunafikan, dan penindasan masa-masa sebelumnya. Jika rasa bersalah hilang dari sensualitas dan seks, bersama dengan rasa malu tentang tubuh manusia, kita dengan senang hati melambaikan tangan perpisahan kepada semua itu. Tetapi apa yang datang menggantikannya?
 
Apa yang sebenarnya telah tiba adalah suatu budaya yang semakin dibentuk oleh pengaruh dominan: porno. Pornografi telah begitu penuh diserap ke dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari—bahasa, mode, iklan, film, Internet, musik, majalah, televisi, permainan video—sehingga ia hampir telah tidak lagi sebagai suatu yang terpisah dari budaya arus utama, suatu "di luar sana." Yaitu, kita tidak lagi harus pergi ke porno untuk mendapatkannya. Ia disaring kepada kita, dalam suatu bentuk, tak memandang apakah kita menginginkannya atau bahkan menyadarinya.
 
Jika kita menginginkan porno, saluran Playboy membawanya langsung ke ruang keluarga kita. Tetapi meskipun kita tidak menginginkannya, Paris Hilton, misalnya, membawanya ke ruang keluarga kita melalui, misalnya, iklan televisi untuk jaringan makanan cepat saji Carl's Jr. di mana Hilton—itu hanya bisa digambarkan dengan cara ini—melakukan seks oral pada sebuah hamburger. (Tidak lama setelah iklan itu tayang, komedian David Spade mengatakan bahwa ketika menonton TV dia melihat hamburger menuju ke pangkalan kedua dengan Paris Hilton.) Internet menawarkan jutaan situs porno kepada siapa saja yang ingin intipan. Tapi ia juga menawarkan intipan jika Anda tidak menginginkannya.
 
Sebagai contoh, salah satu dari kami, berminggu-minggu sebelum Natal beberapa tahun yang lalu, dengan seorang anak yang bersemangat meminta, membuat kesalahan mencari "toys" di Google. (Dan itu terjadi pada masa ketika, seperti kurang lazim sekarang, sebuah layar porno yang tertutup secara otomatis meluncurkan satu atau dua layar porno baru, yang menciptakan sebuah video game seketika di mana kita harus mengklik pop-up tertutup lebih cepat daripada pop-up baru bisa membuka—menampilkan bokong dan payudara!—sementara itu menyikut anak-anak dari lututnya dan berteriak, "Ayah perlu sedikit waktu di sini!")
 
Dalam hal ini, mainan itu sendiri telah, jika tidak dijadikan porno, dikonsep ke dalam layanan pornografi. Lihat lagi boneka Bratz. Boneka yang digambarkan di sini termasuk dalam jalur layanan yang disebut Bratz Play Sportz, tetapi sulit membayangkan olahraga apa pun—di luar video porno—yang membuat para wanita muda berseragam jala setinggi-paha dan sepatu stiletto (yang populer disebut pompa cabuli-aku). Boneka-boneka Bratz secara mendasar menentukan ulang keperempuanan—dan membuat banyak orang tua merasa seolah-olah porno sedang memburu anak-anak perempuan mereka.
 
Porno di mana-mana dalam kehidupan Amerika biasa pada 2008; bahkan, dalam buku ini kami menunjukkan bahwa porno adalah suatu tren budaya yang memengaruhi semua kelompok umur, semua ras, dan semua golongan, dan bahwa hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari biasa sedang dibentuk oleh porno. Bukannya porno telah menjadi arus utama, yang sering kita dengar, sebagaimana arus utamanya telah menjadi mencabul. Semakin lama di Amerika, kita menjalani porno dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Apa yang harus kita lakukan dengan perkembangan ini? Apakah kita lebih buruk, misalnya, daripada di masa sebelumnya, ketika pornografi diasingkan ke lorong belakang budaya kita? Pertanyaannya jauh dari sederhana. Bahkan, ia berguna sebagai titik masuk yang baik ke dalam kompleksitas fenomena porno.
 
Pertama, masa-masa sebelumnya itu, yang kadang-kadang dikenal sebagai masa lalu yang indah di Amerika, sering kali dihanyutkan perasaan. Kita lupa, misalnya, bahwa pada abad ke-19 anak-anak laki-laki biasa diberitahu oleh para penatua tepercaya—pendeta, ayah, kakek—bahwa dosa "kekotoran diri" tidak hanya akan membawa kutukan abadi di dunia berikutnya, tetapi juga kelemahan fisik dan bahkan kegilaan di dunia ini. Mereka sering duduk menyimak ceramah-ceramah mengerikan yang merupakan bagian dari kampanye moralis antimasturbasi. Gadis-gadis diberitahu oleh ibu, nenek, dan bibi mereka bahwa perempuan tidak mendapat kesenangan dari hubungan seks dan menanggungnya hanya untuk menghasilkan anak-anak. Satu-satunya wanita yang merupakan pengecualian dari aturan ini adalah pelacur, yang sensualitasnya yang seharusnya abnormal menggiring mereka ke kehidupan yang tercela di jalanan.
 
Penderitaan adalah akibat dari ketidaktahuan, penindasan, dan kemunafikan seks macam itu. Pada 1856 Walt Whitman menulis puisi pertama dalam sastra Amerika yang membahas masturbasi, “Spontaneous Me,” yang berusaha meyakinkan kaum pria dan wanita muda bahwa dorongan-dorongan tidak tertahankan macam itu benar-benar alami.

Porno telah selalu ada dalam suatu bentuk di Amerika, dan ia bisa ditemukan dalam semua budaya dunia, kuno dan modern. Jika tidak lain, universalitas porno memaksa kita untuk mengakui suatu kenyataan mendasar: kaum pria dan wanita, sesungguhnya, adalah makhluk seks. Dan semakin banyak porno muncul dari bayang-bayang dan jalan belakang, semakin langsung dan jujur kita sebagai sebuah budaya harus menghadapi seksualitas kita sendiri dan memutuskan apa yang akan kita perbuat darinya.
 
Di Amerika saat ini, porno telah menghancurkan sebagian besar ajaran lama. Tentu ada perkecualian bergantung pada di mana kita tinggal dan apakah kita mematuhi suatu iman, tetapi lebih sulit sekarang daripada sebelumnya, misalnya, untuk berpendapat bahwa anak-anak laki-laki dan perempuan puber seharusnya tidak pernah bermasturbasi. Atau bahwa kita mengalami hasrat seks hanya dengan "satu cinta sejati" kita, sehingga berhubungan seks ("bercinta") menjadi bukti positif telah menemukan orang pilihan yang kita ditakdirkan untuk nikahi. Atau bahwa para wanita normal tidak memiliki dorongan seks, kepalsuan yang telah runtuh sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu—standar ganda seks sebagai salah satu sisa yang terakhir untuk mulai terhuyung-huyung di zaman kita sendiri. Atau, mengutip contoh lain dari ketidaktahuan seks yang baru sekarang (ketika para lansia tampil menonjol di banyak situs porno) mulai runtuh: bahwa lewat usia tertentu, mungkin enam puluh atau tujuh puluh, pria dan wanita tidak lagi ada sebagai makhluk seks. Maka, untuk semua minus yang ada, jelas ada juga sisi positif dari porno.


Unduh GRATIS The Porning of America (1 Mb)


Share:
Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Hendy Kusmarian
Added Jan 26

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives