hendyk's blog

Gila Film: Penggemar, Bintang, dan Kultus Pesohor
 
© SAMANTHA BARBAS, 2001
 
ISI
 
Pendahuluan
BAB SATU
Dari Rol Film  ke Kenyataan
BAGIAN DUA
Kultus Kepribadian
BAB TIGA
Peluang Seumur Hidup
BAB EMPAT
Intipan ke Dalam
BAB LIMA
Klub Penggemar Bintang Film
BAB ENAM
Pemandangan dari Hollywood
BABTUJUH
Bahaya Kepenggemaran
Kesimpulan

PENDAHULUAN

ANTARA PERANG DUNIA PERTAMA DAN KEDUA, perfilman Amerika berkembang. Dengan bioskop-bioskop mewah, produksi- produksi layar mewah, dan dewi-dewi film yang berbusana cantik, film-filmnya lebih dari sekadar hiburan. Bagi jutaan orang Amerika, Hollywood adalah pabrik impian, yang menghasilkan fantasi-fantasi rumit tentang kemewahan, kesuksesan, dan romansa.
 
Selama tahun-tahun yang ditandai dengan perubahan sosial dan budaya yang luar biasa itu, para bintang film menjadi selebritas atau pesohor Amerika yang paling mencolok. Koran-koran, majalah-majalah, dan radio dengan patuh mencatat datang dan perginya para aktor dan aktris terkenal. Begitu terpesonanya orang-orang Amerika sehingga pers sering mencurahkan lebih banyak perhatian kepada para bintang daripada untuk hal-hal yang lazimnya bernilai berita. Pada tahun 1926, para kritikus mengeluh bahwa pemakaman Rudolph Valentino menerima jauh lebih banyak liputan media daripada meninggalnya pada hari yang sama rektor Harvard Charles Eliot. Pada 1935, perceraian Mary Pickford dan Douglas Fairbanks dilaporkan di halaman depan New York Times.
 
Dalam iklim keranjingan-film ini, orang-orang Amerika dengan rakus melahap segala yang ada hubungannya dengan Hollywood. Mereka dengan penuh semangat memindai artikel-artikel majalah yang menjelaskan bagaimana film-film diarahkan (disutradarai), laga-laga dilakukan, dan kostum-kostum dibuat. Mereka menyimak iklan yang tak terhitung jumlahnya yang mengaku mengungkap rahasia-rahasia kecantikan para aktris glamor. Mereka bahkan membaca tentang para penggemar film, yang entah bagaimana bisa menerima jatah sorotan mereka sendiri.
 
Antara 1910 dan 1950-an, para penggemar film sering muncul di media populer. Film-film, artikel-artikel majalah, dan novel-novel memamerkan gairah dan antusiasme mereka dengan uraian-uraian yang cenderung, secara tidak mengejutkan, menuju sensasional. Seolah ingin meyakinkan penonton bioskop rata-rata bahwa cinta mereka terhadap film belum mencapai ekstrim fanatik, para penulis dan pembuat film umumnya menggambarkan para penggemar film sebagai naif, dan terlalu bergairah.
 
Pada tahun 1916, misalnya, majalah McClure memberi tahu para pembaca tentang penyakit baru yang telah menjangkiti banyak orang Amerika—kegandrungan film atau "filmitis" Penyakit segera menjadi metafora populer untuk kegandrungan, yang terulang tanpa henti di media. Dikuasai oleh virus film, para penggemar diduga kehilangan kendali indra-indra mereka. Menurut New York Times, tampilan klasik kegilaan film berlangsung pada pemakaman Valentino, di mana ribuan pengagum nakal memadati jalan-jalan untuk melihat sekilas peti matinya. Bahkan Hollywood menyindir penggemar film. Pada tahun 1924, ia memproduksi Merton of the Movies tentang seorang pemuda canggung yang sangat mencintai film sampai-sampai dia memutuskan untuk mengejar karir akting. Pada 1931, film serupa dibuat dengan judul Movie Crazy, dengan Harold Lloyd melakukan kejenakaan dari aspiran Hollywood yang tulus tapi konyol.
 
Mungkin penggambaran paling dramatis dan menakutkan atas para penggemar film era ini muncul dalam The Day of the Locust karya Nathanael West, sebuah novel satir menggigit yang ditulis pada tahun 1938. Dalam bab terakhir The Day of the Locust, sang protagonis, seniman yang sedang berjuang Tod Hackett, secara tidak sengaja menemukan kerumunan penggemar yang menunggu di luar suatu pemutaran perdana film Hollywood. Segera dia dikuasai oleh perasaan kesepian dan putus asa yang menyakitkan. Para pengamat selebriti ini, Tod menyadari, sedang mencari dalam kegandrungan film kompensasi atas kekosongan jiwa mereka. “Adalah suatu kesalahan untuk menganggap mereka pencari rasa ingin tahu yang tidak berbahaya,” tulis West. "Mereka buas dan pedas, terutama yang setengah baya dan tua, dan telah jadi demikian akibat kebosanan dan kekecewaan."
 
Ketika bintang-bintang tiba di premier, kerumunan itu berubah keras, dengan agresif menjambak rambut dan pakaian para selebriti. “Melihat para pahlawan mereka, massa akan berubah kesurupan,” West mengisahkan. “Secara pribadi tujuan para anggota massa mungkin hanya untuk mendapatkan suvenir, tapi secara kolektif ia akan meraih dan merobek.” Tumbuh makin hingar bingar, kerumunan itu segera meledak menjadi massa yang mengamuk. Meskipun ia mencoba melarikan diri, Tod tersapu ke dalam pusatnya, terbawa maju dan mundur oleh massa yang mendorong, menjerit, dan berdenyut. Para penggemar terkubur, memar, dan terinjak-injak; Tod, bingung dan terluka, dibawa pergi oleh ambulans yang meraung-raung. Dalam konteks Hollywood yang tidak berarti dan tidak nyata, kemungkinan keras fanatik yang melekat dalam kegandrungan film terdorong ke perwujudan yang menakutkan.
 
Pada tahun yang sama, studio Metro-Goldwyn-Mayer memberi bangsa Amerika sebuah potret yang sama sekali berbeda tentang penggemar film. Dalam suatu musical ceria, The Broadway Melody of 1938, Judy Garland memainkan remaja yang manis tapi pusing yang jatuh cinta pada bintang favoritnya, Clark Gable. Pena di tangan, bersiap untuk menulis surat penggemar, dia menatap potret sang aktor dan menyanyikan penuh gairah ketergila-gilaannya—bagaimana dia jatuh cinta pada Gable saat menontonnya dalam It Happened One Night (1934), bagaimana Gable tersenyum padanya selama suatu penampilan pribadi di sebuah bioskop, bagaimana dia tampak baginya "orang paling baik di film-film." Seiring adegannya memudar, dia menyihir ke kamera dan bersumpah untuk
memuja idolanya yang tampan selamanya.
 
Kerumunan hiruk pikuk dan siswi sekolah yang konyol; pengamat selebriti yang letih dan remaja yang tergila-gila—dua stereotip populer dari kegandrungan film ini akan ada berdampingan sepanjang banyak abad ke-20. Meskipun pemuja bintang remaja MGM jauh kurang mengancam daripada paruh baya West, kedua sosok ada di pinggiran masyarakat. Tidak pernah sebagai aktivitas yang benar-benar “normal”, kegandrungan film seperti yang digambarkan dalam budaya populer tampaknya menarik mereka yang kesepian, yang naif, dan belum dewasa. Setiap perilaku penggemar yang tampaknya menegaskan citra ini—para penggemar keranjingan yang mencoba menyerang selebriti—akan sepatutnya dilaporkan oleh pers sebagai bukti.
 
Tetapi ketika West menulis satirnya dan Judy bernyanyi untuk Clark, ribuan penggemar film, yang bukan remaja maupun pedas, terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang terlalu biasa untuk pers. Di suatu tempat di New York, seorang pengusaha menumbuhkan rasa suka pada Greta Garbo. Di Nebraska, seorang ibu dari empat anak membicarakan cintanya pada Fred Astaire dengan tetangga sebelah. Di Texas, seorang guru sekolah diam-diam bermimpi menjadi bintang film. Dekat Chicago, seorang nenek 70-tahun mengumpulkan foto-foto Joan Crawford dari edisi terbaru majalah Photoplay .
 
Kegandrungan film di era klasik sinema Hollywood—dari permulaan sistem bintang film pada tahun 1910 sampai penurunan sistem studio pada akhir 1940-an—jauh kurang dramatis dan sensasional, dan jauh lebih kompleks dan menarik, daripada ia telah biasanya digambarkan. Jauh dari ketidakpuasan marjinal, para penggemar film berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, mereka ikut serta dalam berbagai kegiatan. Lebih dari hanya para pengamat selebritas dan penulis surat, para penggemar berkontribusi pada majalah, mengikuti klub-klub penggemar, dan memberikan saran ke studio-studio film. Sebagian menjadikan aktivitas penggemar bagian utama kehidupan mereka, mencurahkan berjam-jam setiap hari pada gairah mereka. Bagi yang lain, kegandrungan hanya suatu hobi biasa, yang dikejar sesekali atau secara sporadis.
 
Namun terlepas dari perbedaan mereka, para penggemar memiliki satu kesamaan. Tidak puas hanya menonton film, mereka berusaha terus memengaruhi, mengendalikan, dan menjadi terlibat langsung dalam proses pembuatan film. Terkadang ini berbentuk kampanye menulis-surat. Dalam usaha mencoba mendapatkan publisitas lebih baik bagi para idola mereka dan peran-peran yang lebih menonjol, para penggemar membanjiri studio-studio dengan ribuan maksud ngotot. Lainnya mengirimi studio-studio naskah-naskah dan ide-ide cerita untuk film-film. Sejumlah penggemar yang ambisius bahkan mencoba menjadi aktor. Dari 1910 hingga sekitar 1930, ribuan penggemar berbondong-bondong ke Hollywood dengan harapan meluncurkan karir film. Cerita kegandrungan film, kebanyakan, adalah cerita cara para penggemar menolak menerima budaya massa secara pasif dan, sebaliknya, menjadi terlibat aktif dalam hiburan mereka.
 
Ini juga kisah cara para penggemar secara signifikan memengaruhi Hollywood. Khawatir akan amarah para penggemar yang marah—khususnya, potensi kerugian loket tiket dan publisitas negatif—studio-studio sering mengubah para pemeran dan keputusan publisitas menanggapi keluhan para penggemar. Kadang-kadang studio-studio bahkan mengubah penampilan dan kepribadian para bintang ketika mereka menerima permintaan yang cukup. Pada 1930-an, misalnya, ketika para penggemar menulis kepada MGM menuntut pahlawan yang berbicara-keras, studio itu
menciptakan suatu pribadi agar sesuai dengan tuntutan itu. Melalui pemilihan-peran yang cermat dan kampanye publisitas yang terampil, Clark Gable, seorang aktor panggung yang tidak istimewa, diubah menjadi bintang kasar, menawan, dan sangat populer. Penggemar sebenarnya berperan besar menciptakan pujaan-pujaan mereka.
 
Tetapi dinamikanya sering berjalan sebaliknya. Seperti halnya para penggemar kadang mengendalikan Hollywood, Hollywood juga mengendalikan para penggemar. Memanfaatkan minat para penggemar pada para bintang, industri film, dengan bantuan penerbit dan pengiklan, menjual kepada para penggemar berbagai produk konsumen. Mereka mendesak para penggemar untuk melihat konsumsi sebagai bentuk partisipasi: daripada menjadi secara pribadi terlibat dalam film, para penggemar mungkin ikut serta dengan membeli kosmetik dan pakaian yang didukung oleh bintang-bintang. Antara 1910 dan 1950, gairah terhadap film menarik bangsa Amerika tidak hanya ke dalam budaya penggemar tetapi juga ke dalam budaya konsumen yang berkembang pesat dan ke dalam budaya selebriti yang sedang berkembang yang berpusat di sekitar eksploitasi dan kepribadian para aktor paling populer.
 
Mungkin cara paling penting para penggemar menjadi terlibat dalam film menyangkut apa yang saya sebut pencarian keaslian. Sejak masa paling awal perfilman, para penggemar telah terpesona sekaligus dibuat kesal oleh kemampuan film untuk menciptakan ilusi kehidupan yang realistis. Meskipun senang melihat gambar foto bergerak, penggemar sering bertanya-tanya apakah mereka harus memercayai mata mereka. Bagaimana jika aksi dan pengejaran yang mereka lihat di layar itu bohongan? Bagaimana jika para bintang film hanya citra dan tidak ada wujudnya? Kecuali mereka
hadir ketika film-film itu dibuat, tidak ada cara untuk mengetahui—dan kurangnya pembuktian ini, bagi banyak penggemar, menakutkan. Dalam upaya untuk menegaskan bahwa film-film memiliki dasar dalam kenyataan, penggemar mencoba belajar sebanyak mungkin tentang dunia di balik layar. Penggemar ingin tahu: apakah para bintang sama memesona dalam kehidupan nyata seperti di film? Seperti apakah para aktor dan aktris sebenarnya?
 
Pada tahun-tahun sebelum 1910, pertanyaan-pertanyaan ini seringkali sulit dijawab. Karena publisitas bintang film belum menjadi praktik industri film yang meluas, penggemar harus mencecar studio-studio dengan pertanyaan-pertanyaan dan surat-surat untuk mengetahui informasi terperinci tentang para aktor. Namun, pada 1915 situasinya telah berubah. Baik penerbitan arus utama mapan—seperti Collier's dan New York Times—serta sejumlah majalah penggemar film baru—Photoplay, Motion Picture, dan Shadowland, antara lain—mengisi halaman-halaman dengan fakta-fakta tentang bintang-bintang Hollywood. Meskipun penggemar senang dengan melimpahnya informasi, pada saat yang sama mereka bimbang. Seringkali didasarkan pada gosip atau rumor yang belum dikonfirmasi, jurnalisme selebriti baru tampaknya memunculkan sebanyak pertanyaan seperti ia menjawab. Bagaimana bisa para pembaca tahu apakah artikel-artikel itu benar? Dengan begitu banyak cerita yang bersaing, yang mana harus mereka percayai? Dalam aspek lain dari pencarian mereka untuk keaslian, para enggemar sering mencoba untuk mengalahkan wartawan. Sebagian penggemar mencoba mengungkap kebenaran tentang para aktor dengan langsung bersurat dengan mereka. Lainnya berjalan ke Hollywood dan berkemah di depan rumah para selebritas. Banyak penggemar tidak akan puas sampai mereka tahu sendiri fakta-fakta tentang bintang-bintang itu.
 
Membayangkan kegandrungan sebagai suatu pencarian keaslian, pengaruh, dan keterlibatan—dengan kata lain, upaya untuk memahami, mengendalikan, dan ikut serta dalam film—menyingkap sejumlah masalah penting dalam budaya Amerika abad kedua puluh. Pertama, ia bertentangan dengan klaim para kritikus yang melihat fenomena penggemar sebagai tanpa tujuan dan sepele. Ia juga menambah dimensi lain pada banyaknya studi mendalam tentang perilaku penggemar yang telah diterbitkan dalam 20 tahun terakhir. Seperti John Fiske, Janice Radway , Henry Jenkins, dan cendekiawan budaya populer lainnya telah menulis, para penggemar tidak hanya mengonsumsi budaya massa tetapi juga memainkannya. Sadar akan sifat impersonal dan komersial dari budaya populer, penggemar tetap menumbangkannya untuk melayani kepentingan pribadi mereka sendiri. Banyak penggemar, misalnya, telah menggunakan kecintaan mereka pada penyanyi atau genre film tertentu untuk menemukan kekuatan dan harga diri. Para anggota klub penggemar juga bercerita tentang kedekatan dan persahabatan yang telah dihasilkan dari minat-minat mereka yang sama. Beberapa penggemar bahkan menggunakan film, program televisi, atau tokoh fiksi favorit mereka sebagai inspirasi untuk novel dan cerita pendek mereka sendiri. Jika dilihat dalam konteks pencarian keaslian, pengaruh, dan keterlibatan, upaya-upaya perampasan budaya ini mungkin dilihat sebagai lebih dari sekedar upaya untuk menyuntikkan makna pribadi ke dalam hiburan massa. Dengan menjadi erat dan aktif terlibat dalam hiburan mereka, para penggemar mungkin berusaha membuat
lebih nyata dan dekat realitas tiruan yang disajikan oleh film, televisi, dan media massa lainnya.
 
Tapi tidak hanya penggemar film telah peduli dengan permasalahan ini. Banyak penonton bioskop biasa bertanya-tanya tentang hubungan antara sinema dan kehidupan; para pemirsa televisi dan penggemar musik popular juga telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang orang-orang di balik gambar dan suara. Dengan kata lain, pertumbuhan budaya yang dimediasi massa, di mana tiruan-tiruan realitas sering menggantikan pengalaman-pengalaman asli, belum mulus dan tanpa cacat. Bertolak belakang dengan apa yang banyak cendekiawan telah menyarankan, bangsa Amerika belum secara pasif menerima citra-citra ini. Kita tidak mati-matian dan tanpa pertanyaan
mengonsumsinya tetapi secara aktif mempertanyakan dan menyelidikinya.
 
Setelah hampir 100 tahun perfilman, bangsa Amerika masih terpesona oleh sinema. Meskipun kebanyakan dari kita merasa cukup yakin tentang cara kerja film—bahwa kamera menggambarkan versi realitas yang terbelokkan dan terbangun—kita masih melakukan tindak-tindak pembuktian.
 
Meskipun kebanyakan dari kita menerima bahwa kita tidak bisa mengambil bagian secara langsung dalam proses pembuatan film, kita masih ingin merasakan sebagian dari film dengan mengenali cara kerja internal studio-studio film dan rincian kehidupan para bintang. Selama kita pergi ke bioskop, kita mungkin akan selalu terpesona oleh pertanyaan keaslian dan keterlibatan. Dan seiring teknologi abad kedua puluh satu memberi kita lebih banyak bentuk hiburan—dan lebih mirip kehidupan— mungkin menjadi semakin mendesak permasalahan ini.


Unduh GRATIS Movie Crazy (4,8 Mb)

Kerja Seks Berarti: Menjelajahi Uang, Kekuasaan, dan Kemesraan dalam Industri Seks
diedit oleh Melissa Hope Ditmore , Antonia Levy, dan Alys Willman
 
Hak Cipta © 2010 Melissa Hope Ditmore , Antonia Levy dan Alys Willman
 
Isi
 
KATA PENGANTAR
Pendahuluan: Di Luar Seks dalam Pekerjaan Seks
A DI LUAR KUBU-KUBU: KERANGKA BARU UNTUK MEMAHAMI INDUSTRI SEKS
1 Kerja Seks Sekarang: Apa Arti Kaburnya Batas-Batas di Sekitar Industri Seks bagi Kerja, Penelitian, dan Aktivisme Seks
2 Kebutuhan (Mendesak) bagi Jenis-Jenis Penelitian Berbeda
3 Makna 'Pelacur': Bagaimana Teori-Teori Feminis tentang Pelacuran Membentuk Penelitian tentang Para Pekerja Seks Perempuan
B MENGELOLA BEBERAPA PERAN
4 Mencintai, Menghargai, dan Melucuti: Penyelidikan Hubungan Asmara Penari Eksotis
5 Seks dan yang Tak Terucapkan dalam Pelacuran Jalanan Pria
6 Ke(ab)normalan yang ditegakkan: hijrah pekerja seks dan penggunaan (ulang) identitas lelaki/perempuan
C UANG DAN SEKS
7 Ayo Bicara Tentang Uang
8 Perlihatkan Aku Uangnya: Seorang Pekerja Seks Merenungkan Penelitian tentang Industri Seks
9 Menjual Seks: Partisipasi Perempuan dalam Industri Seks
D KERJA SEKS DAN NEGARA
10 Memucikari Pueblo: Seks Komersial yang Diatur Negara di Meksiko Neoliberal
11 Gadis-Gadis Menyimpang, Para Pengusaha Kecil, dan Pengaturan Para Pekerja Seks Jerman
12 Kerja, Komunitas, dan Kebijakan Publik Seks di Inggris
E MENGORGANISIR DI LUAR KUBU-KUBU
13 Aktivisme Hak-hak Pekerja Seks di Eropa: Orientasi dari Brussel
14 Kesimpulan: Mendorong Batas-Batas dalam Aktivisme dan Penelitian Kerja Seks
 
Kata pengantar
Alys Williams dan Antonia Levy
 
Seperti begitu banyak proyek sastra dan ilmiah yang hebat, Kerja Seks Berarti dicetuskan di sebuah kedai kopi. Suatu sore di musim semi pada 2005, kami berdua duduk meratapi sangat sedikitnya peluang yang tampaknya ada untuk bertemu orang lain yang tertarik dalam penelitian tentang kerja seks. Kami sepakat bahwa sepertinya kami selalu diasingkan ke suatu panel tentang 'gender,' atau 'kemiskinan,' atau 'penyimpangan' dalam konferensi-konferensi di mana kami menyajikan, seolah-olah kerja kami adalah suatu topik yang menarik, tetapi hanya minat tipis. Atau lebih buruk, kami ditempatkan pada suatu panel tentang perdagangan dan dibiarkan menjelaskan bagaimana kerja kami berbeda, dan bagaimana kerja seks secara umum bukanlah perdagangan, dan sebagainya.
 
Dari keluhan-keluhan timbal balik ini lahir ide untuk menyelenggarakan suatu konferensi hanya tentang kerja seks, sebagai kesempatan bagi kami untuk melihat pekerjaan macam apa yang sedang dilakukan di tempat-tempat berbeda, dan untuk bertemu orang-orang yang darinya kami dapat belajar dan bekerja. Kami ingin mengumpulkan para pekerja seks, cendekiawan, dan aktivis (dan mereka yang masuk dalam lebih dari satu kategori ini) untuk menjajaki isu-isu yang paling penting bagi mereka. Kami membayangkan urusan setengah-hari dengan beberapa mahasiswa pascasarjana dan aktivis dari New York, atau mungkin sejauh Washington, DC. Kami menggambar bra yang tergantung di tiang bendera di balik sehelai serbet sebagai logo kami, dan memutuskan untuk terus bertemu. Kami yakin seseorang akan mendanai ide bagus kami.
 
Tidak ada yang ingin mendanai kami atau, setidaknya, tidak ada yang punya uang. Selama delapan bulan berikutnya kami mengemis dari satu departemen akademik dan organisasi feminis ke lainnya, hanya untuk mendengar bahwa tidak ada uang. Akhirnya kami mampu meyakinkan Pusat Studi Perempuan dan Masyarakat di Pusat Pascasarjana City University of New York (CUNY) bahwa kami serius, dan dalam satu pertemuan cappuccino direkturnya telah membawa masuk konsorsium studi-studi perempuan antar-universitas sekitar $2.000. Beberapa ratus dolar lagi dari berbagai organisasi mahasiswa pascasarjana dan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang kekurangan uang, dan sejumlah dukungan logistik dari kantor kegiatan mahasiswa The New School, New York, dan kami berjalan.
 
Hari konferensi adalah ledakan dalam keragaman dan debat. Para penyaji—52 orang dari tiga belas Negara—mewakili pengalaman-pengalaman para pekerja seks, penampil, aktivis, blogger, pelajar, guru, orang tua, dan mitra. Diskusi-diskusi mendorong batas-batas debat-debat saat ini untuk membahas pekerjaan seks dalam konteks kekuasaan, politik, diskriminasi, dan hak-hak buruhnya yang lebih luas. Partisipasi banyak akademisi yang terkenal, cendekiawan dan aktivis muda dan inovatif, serta para aktivis lama termasuk Carol Leigh, Priscilla Alexander, dan Robyn Few sebagai panelis dan peserta aktif, menciptakan lingkungan yang merangsang dan unik untuk pertukaran pikiran. Percakapan hidup dan jujur, terkadang menyerempet agresif. Para aktivis menunjukkan di mana kaum akademisi jauh dari sentuhan. Para akademisi berjanji untuk melakukan lebih banyak penelitian dalam koordinasi dengan para pekerja seks. Semua orang setuju perlu ada lebih banyak diskusi dan penggambaran atas pembagian golongan dalam pekerjaan seks dengan mendekati para pekerja jalanan, dan pekerja seks di negara-negara berkembang. Ini, tentu, menunjukkan perlunya lebih banyak dana untuk proyek-proyek seperti ini.
 

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan sulit diajukan, dan masalah-masalah rumit dibahas, dan bahkan hal-hal yang memalukan dikatakan. Di meja bundar terakhir, di mana 150 orang berdesakan dalam ruang konferensi kecil (ruang berdiri saja) untuk membahas pokok-pokok utama hari itu, beberapa aktivis memasuki perdebatan sengit tentang ke mana gerakan ini harus melangkah dari sini. Dan lalu, diam-diam, seorang mahasiswi dari Brooklyn College berdiri dan mengajukan sebuah pertanyaan yang membungkam ruangan. "Saya tidak mengerti tujuan akhirnya,' katanya. 'Maksudnya, apa yang anda inginkan untuk masa depan, misalnya, bagi para pekerja seks yang belum lahir?'


Terjadi keheningan lama, dan meskipun sebagian dari para aktivis yang sama menyahut untuk menegaskan bahwa ya, memang mereka sedang bekerja untuk para pekerja seks yang belum lahir, agar mereka bisa memiliki kondisi-kondisi kerja yang lebih baik, ketidaknyamanan itu terasa. Mulai mereka yang paling merayakan kerja seks sampai orang-orang yang lebih pragmatis di ruangan itu, yang menyadari pelacuran akan selalu ada selama permintaan ada, semua tampak enggan untuk meladeni gagasan pekerja seks yang belum lahir, setidaknya di dunia seperti sekarang. Apakah karena kita semua memiliki sedikit jiwa abolisionis di dalam diri kita? Apakah karena citra seorang pekerja seks yang belum lahir menyiratkan terlalu banyak predeterminasi, bahkan paksaan? Bisakah Anda mendukung para pekerja seks dan masih tidak tenang dengan pikiran seorang anak, puteri atau putera Anda mungkin, tumbuh besar menjadi pekerja seks? Bisakah Anda mendukung para pekerja seks dan tetap percaya seharusnya ada lebih banyak pilihan untuk dipilih? Bisakah kita membayangkan dunia di mana pekerjaan seks adalah pilihan pekerjaan yang aman, bahkan terhormat?

 

Di sinilah, mungkin, ada titik awal bagi percakapan-percakapan dan kolaborasi-kolaborasi mendatang untuk menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi. Buku ini menemukan tempatnya dalam suatu gerakan internasional yang tumbuh untuk hak-hak para pekerja seks dan agenda penelitian yang meluas untuk isu-isu yang memengaruhi mereka. Bidang pekerjaan seks terbuka lebar bagi para akademisi yang mau terlibat dalam penelitian kolaboratif dengan para pekerja seks. Para aktivis menghadapi tugas bekerja sama dengan para peneliti dengan cara-cara yang memajukan agenda progresif dan memerangi stigma sosial, dan membantu menghubungkan gerakan hak-hak pekerja seks dengan gerakan-gerakan sosial yang lebih luas. Sebuah tantangan juga menanti para penyandang dana, yang sebagian besar telah menghindari proyek-proyek yang berhubungan langsung dengan kerja seks, untuk mendanai penelitian dan mendukung aktivisme yang menangani pekerjaan seks dalam dimensi sosial, ekonomi, dan politiknya. Kami membayangkan buku ini sebagai sebuah langkah penting menuju membahas tantangan-tantangan ini, dan menjadikannya peluang.


Unduh GRATIS Sex Work Matters (1,3 Mb)


Kecanduan Game: Daya Tarik dan Akibat Kecanduan Video Game dan Internet
Oleh Andrew Doan, MD, PhD dengan Brooke Strickland

© 2012 Andrew Doan, MD, PhD, dan Brooke Strickland  
 
Kata Pengantar
 
Orang-orang telah membicarakan permainan video dan Internet sebagai "adiktif" sejak game dan komputer memasuki rumah. Sebagai seorang pemain game dan pengguna internet, saya mengenali godaan untuk menyebut mereka adiktif, tetapi, sebagai seorang ilmuwan, saya sangat skeptis. Meskipun kita menggunakan istilah "kecanduan" dalam bahasa sehari-hari untuk menggambarkan apa pun yang padanya kita habiskan banyak waktu, ini bukan cara yang tepat untuk menggambarkan permainan video, baik secara medis maupun psikologis.
 
Kecanduan (dan bahkan, sebagian besar gangguan kesehatan mental) ditentukan oleh seberapa banyak itu mengganggu kehidupan kita, bukan oleh seberapa banyak ia digunakan. Apalagi, untuk digolongkan sebagai penting secara klinis, ia mensyaratkan disfungsi dalam banyak bidang kehidupan. Karena waktu terbatas, kita selalu mengorbankan beberapa kegiatan untuk kegiatan-kegiatan lain yang kita lebih sukai.

Karena itu, jika Anda suka bermain game dan mengorbankan sejumlah waktu bersama keluarga untuk bermain game, itu saja tidak menandakan kecanduan. Bahkan, itu membuatnya normal. Tapi jika keluarga dan pertemanan anda menderita, anda berprestasi buruk di sekolah, atau kehidupan kerja Anda menderita, maka permainan telah menyebabkan Anda tidak berfungsi karena ia jelas terkait dengan merugikan banyak bidang penting dari hidup Anda.
 
Saya mulai mempelajari kecanduan video game menggunakan pendekatan klinis yang jauh lebih konservatif ini untuk mendefinisikan masalahnya. Saya seorang skeptis ilmiah sejati, dan saya sejujurnya percaya bahwa saya tidak akan menemukan orang yang sesuai dengan definisi kecanduan yang lebih klinis ini. Namun data tidak berbohong, dan ternyata sejumlah mengejutkan gamer mengakui kerugian pada beberapa bidang kehidupan mereka. Dalam satu studi nasional terhadap lebih dari 1.100 anak berusia 8 hingga 18 tahun di Amerika Serikat, kami menemukan bahwa 8,5 persen akan tergolong sebagai gamer patologis menurut definisi ini. Meskipun ini dapat dianggap sebagai persentase yang agak kecil, sifat sebenarnya dari masalah ini menjadi jelas ketika kita memandang persentase ini dari segi populasi atau jumlah penduduk.

Ada sekitar empat puluh juta anak antara delapan dan delapan belas tahun di Amerika Serikat. Sekitar 90 persen dari mereka bermain video game. Jika 8,5 persen dari mereka patologis (bersifat kelainan), itu lebih dari 3 juta anak yang secara serius merugikan banyak bidang kehidupan mereka karena kebiasaan bermain game mereka! Itu lebih dari 3 juta anak yang mungkin harus mendapatkan bantuan, tetapi sebagian besar tidak akan melakukannya karena tidak ada diagnosis medis untuk penggunaan patologis teknologi. Begitu ada, ia akan serupa dengan pendekatan yang berfokus pada disfungsi. Definisi diagnosis medis penting karena, sampai ada definisi ini, perusahaan-perusahaan asuransi tidak akan membayar pengobatan.
 
Selain itu, banyak terapis belum yakin bahwa ini adalah masalah "nyata". Ini mirip dengan pendapat kita tentang alkoholisme lima puluh tahun yang lalu. Studi-studi saat itu mulai bermunculan yang menandakan bahwa tampaknya suatu model penyakit medis akan cocok; ada faktor-faktor risiko yang dapat dikenali, dan itu bisa diobati, tetapi sebagian besar orang tidak begitu saja membaik tanpa bantuan. Akan tetapi, budaya saat itu tidak mampu menerima ini. Sebaliknya, budaya menganggapnya sebagai kegagalan akhlak—para pecandu alkohol tidak “cukup kuat” saja. Butuh 30 tahun penelitian untuk menunjukkan bahwa alkoholisme harus ditanggapi dengan serius oleh masyarakat medis. Saya percaya kita berada di titik yang serupa tentang penggunaan patologis teknologi.
 
Kajian-kajian mulai menunjukkan bahwa sepertinya ada faktor-faktor risiko yang dapat dikenali; misalnya, ia tidak hilang sendiri dengan mudah, dan ia dapat diobati. Dalam satu studi terhadap lebih dari 3.000 anak, para peneliti menemukan bahwa mereka dapat meramalkan anak-anak mana akan menjadi gamer patologis dengan mengetahui apakah mereka memiliki kendali gejolak-hati yang buruk, hubungan sosial yang buruk, dan menghabiskan banyak waktu bermain game (Choo H, Gentile DA, Sim T, Li D, Khoo A, Liau AK. Bermain video-game patologis di kalangan pemuda Singapura. Ann Acad Med Singapura. 2010 Nov; 39(11): 822-9).
 

Begitu mereka menjadi pemain patologis, mereka menjadi lebih tertekan, cemas, fobia sosial, dan kurang produktif di sekolah. Jika mereka berhenti kecanduan, depresi, kecemasan, dan fobia sosial mereka terangkat, dan nilai-nilai sekolah mereka membaik. Tampaknya permainan itu adalah bagian penting dari kesehatan mental menyeluruh mereka.


Namun, budaya yang lebih luas masih menolak pesan ini, dan mereka memandang kecanduan bermain game sebagai kegagalan moral; hanya kali ini, kegagalan moralnya biasanya dianggap sebagai kegagalan moral orang tua, yang diharapkan dapat mengendalikan perilaku anak-anak mereka. Tentu diperlukan lebih banyak penelitian sebelum komunitas medis merasa bahwa kita cukup memahami masalahnya untuk sampai pada suatu definisi yang disepakati. Meskipun demikian, saya harap tidak perlu tiga puluh tahun riset lagi sebelum kita mulai menganggap masalah ini dengan serius.

 
Douglas A. Gentile, PhD

www.douglasgentile.com


Unduh GRATIS Hooked on Games (600 Kb)



Buku Pegangan Kecurangan, Penipuan & Kelicikan: Kegagalan Etika dalam Kepemimpinan


Diedit oleh

Serge Matulich , Ph.D., CPA
David M. Currie, Ph.D.
© 2009 oleh Taylor & Francis Group, LLC
 
Isi
 
Pendahuluan
Bagian I Kelangsungan dari Kaum Terlayak dan Tercerdik
1 Sifat Kejujuran: Menjelajahi Contoh-Contoh Kebohongan Sastra di Amerika
2 Penyesuaian Harga di bawah Meja


Bagian II Individu-Individu Serakah

3 Charles Ponzi
4 Bocah Kota-Pertanian ke Buronan Internasional
5 Oscar Hartzell dan Harta Sir Francis Drake
6 Contoh Nyata Penipuan di Distrik Sekolah Independen Fort Worth
7 Rumah Kentucky-ku yang Terjual: Kasus Pembangun Rumah Erpenbeck
8 ZZZZ Best: Membawa Investor ke Pencuci
9 Para Penipu Kota Berbagi Penipuan Harga

10 Martin Frankel 101


Bagian III Penipuan Ilmiah  

11 Eksperimen Manusia yang Melibatkan Radiasi, Sifilis, dan Penyakit Kudis
12 Memoles Data: Kegagalan Etika dalam Penelitian Medis
13 Dari Penipuan ke Holocaust: Protokol Penatua Sion


Bagian IV Perilaku Licin

14 Skandal Minyak Penerbangan China
15 Skandal Eksplorasi Minyak dan Gas SH
16 Skandal Minyak Goreng Spanyol: Sindrom Minyak Beracun atau Penutupan?


Bagian V Penipuan di Dunia Perusahaan

17 Adelphia Communications: Perusahaan Publik Yang Menjadi Celengan Pribadi: Kasus Penipuan dalam Perusahaan Keluarga Rigas
18 Taruhan Tinggi dan Energi Tinggi di Enron: Kebangkitan dan Keruntuhan "E Bengkok"
19 Kisah Tertutup Skandal Parmalat: Kepemimpinan Keluarga Jadi Melenceng dalam Grup Multinational
20 Royal Ahold: Kegagalan Kepemimpinan dan Akuntansi "Bak Mandi Besar"


Bagian VI Para Pengawas Tertangkap Tidur

21 Kejatuhan Satu Raksasa: Kasus Arthur Andersen & Co
22 Kejatuhan San Diego
23 United Airlines: Dana Pensiun, Laba, dan Etika


Bagian VII Perkembangan Tidak Sehat  

24 “Keluarga” HealthSouth
25 Richard Scrushy: Kebangkitan dan Kejatuhan "Raja Perawatan Kesehatan”
26 Jangan Lihat Keburukan; Jangan Dengar Keburukan; Jangan Bicara Keburukan: Tanggung Jawab Moral Ernst & Young atas Kecurangan HealthSouth

Pengantar

Penipuan dan kecurangan menjadi alur yang menarik dalam film-film, buku-buku, dan acara-acara TV. Laporan-laporan tentangnya menjual koran-koran dan menarik pemirsa ke siaran-siaran berita televisi. Seringkali, fokus dari cerita-cerita ini adalah nilai dolar dari penipuannya dan gaya hidup mewah dari si pelaku. Namun, upaya untuk menyampaikan kehancurannya bagi orang-orang, bisnis-bisnis, dan organisasi-organisasi yang terdampak oleh pengkhianatan dari akal bulus seseorang sering kurang.

Sulit untuk menggambarkan kehancuran yang dialami oleh sebuah bisnis atau organisasi dan para karyawannya, serta oleh orang-orang yang kerja seumur hidup dan rencana masa depannya hilang melalui kelicikan seorang penipu. Kerugian-kerugian ini tidak hanya materi tetapi juga psikologis dan emosional yang dalam, yang meninggalkan jiwa-jiwa dalam kehancuran. Organisasi-organisasi yang terlibat dalam penipuan, baik sebagai korban atau pelaku, sering hancur melebihi titik bisa diselamatkan.

Bab-bab dari buku Matulich dan Currie ini mengungkap kisah-kisah menarik yang memerinci pikiran licik yang menerapkan apa yang hanya dapat kita anggap sebagai keterampilan dan kelicikan untuk mengecoh orang lain. Para editor telah melibatkan banyak penulis untuk berbagi kisah para pemimpin dan pengikut yang memilih untuk ikut dalam berbagai penipuan dan kecurangan. Kisah-kisahnya memikat. Saya mendorong Anda sebagai pembaca untuk menemukan benang merah yang menghubungkan kisah-kisah ini untuk melihat bagaimana penipuan penipuan dan kecurangan-kecurangan diulang-ulang dengan samaran baru.

Para penipu sering menampilkan ciri-ciri khas yang lazim dikaitkan dengan pemimpin yang baik. Ini mencakup menetapkan visi, mengomunikasikannya dengan jelas, serta memotivasi dan mengembangkan orang-orang lain untuk mau mengikuti orang yang memimpin. Tetapi bagaimana jika ada visi yang jelas, tetapi tidak memiliki prinsip-prinsip etika? Apa yang terjadi jika motivasinya adalah pengembangan-diri atau salah arah dan mengabaikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip etika? Tanpa etika—yang umumnya disebut sebagai mengamalkan sistem nilai-nilai moral berdasarkan prinsip-prinsip perilaku yang baik dan benar—kepemimpinan itu kosong. Ketika pemimpin tampaknya memiliki keterampilan yang diperlukan tetapi bekerja tanpa landasan etika, hasilnya cenderung menciptakan kekacauan dan kehancuran.

Sebagian akademisi mungkin berdebat apakah kepemimpinan dan etika bisa diajarkan. Yang lain percaya bahwa kepemimpinan dan prinsip-prinsip etika tidak hanya harus dikembangkan sepanjang proses pendidikan, tetapi juga dibahas dalam semua lembaga penting dalam masyarakat kita. Ini harus diajarkan berdampingan, karena hanya melalui pendekatan bermitra ini masyarakat dapat berharap untuk mengembangkan para pemimpin yang melakukan hal-hal yang benar demi alasan-alasan yang benar dan para pengikut yang mempertanyakan kepemimpinan tanpa prinsip-prinsip etika.

Susan A. Bach
Direktur Eksekutif, Pusat Pengembangan Kepemimpinan
Fakultas Pascasarjana Bisnis Roy E. Crummer


Unduh GRATIS The Handbook of Frauds (3,5 Mb)

Perpornoan Amerika: Kebangkitan Budaya Porno, Apa Artinya, dan Ke Mana Kita Pergi Dari Sini
Carmine Sarracino dan Kevin M. Scott © 2008
 

Isi


Pendahuluan
1 Menormalkan Kaum Pinggiran
2 Bangsa Para Bintang Porno
3 Popping Rosie's Rivets: Porno di Masa Lalu
4 Para Teladan Porno: Memajukan Garis Depan Porno
5 Anda Mau Porno dengan Burger Itu?
6 Nexusnya Porno dan Kekerasan: Abu Ghraib dan Setelahnya
7 Kaum Wanita dan Porno
8 Ke Mana Kita Pergi Dari Sini
 
Pendahuluan


Sebagai profesor di perguruan tinggi, kami biasanya menulis tentang mata pelajaran yang kami pegang erat-erat: obyektif, intelektual, tidak memihak. Namun tidak demikian dalam buku ini. Kami adalah bagian dari—terlibat dalam, menjalani—fenomena yang kami gambarkan sebagai perpornoan Amerika. Kami adalah lelaki Amerika, suami, dan orang tua dari anak-anak kecil, masing-masing dari kami ayah dari seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki. Berjalan-jalan di mal minggu lalu, salah satu dari kami menemukan sesuatu yang sebelumnya hanya kami baca: pakaian dalam bikini untuk gadis-gadis kecil. Yang lain baru-baru ini melihat putrinya yang berusia empat tahun, merangkak, menonton iklan televisi untuk boneka Bratz, yang terlihat sangat mirip pelacur. Putra-putra kami, delapan dan sepuluh tahun, berpura-pura tidak tahu apa-apa ketika iklan seperti itu muncul di stasiun kartun mereka, tetapi kami telah melihat mereka mencuri pandang sekilas, dan bahkan melotot, mata terpaku, ketika mereka tidak tahu mereka sedang diawasi.

 
Bagaimana bisa kami, sebagai ayah yang juga lelaki seksual, menyalahkan mereka? Kami juga menghargai daya tarik dari bentuk perempuan dan seks. Dan kami bersyukur bahwa anak-anak kami akan tumbuh dalam suasana kebebasan seks yang akan membebaskan mereka dari sebagian besar ketidaktahuan, kemunafikan, dan penindasan masa-masa sebelumnya. Jika rasa bersalah hilang dari sensualitas dan seks, bersama dengan rasa malu tentang tubuh manusia, kita dengan senang hati melambaikan tangan perpisahan kepada semua itu. Tetapi apa yang datang menggantikannya?
 
Apa yang sebenarnya telah tiba adalah suatu budaya yang semakin dibentuk oleh pengaruh dominan: porno. Pornografi telah begitu penuh diserap ke dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari—bahasa, mode, iklan, film, Internet, musik, majalah, televisi, permainan video—sehingga ia hampir telah tidak lagi sebagai suatu yang terpisah dari budaya arus utama, suatu "di luar sana." Yaitu, kita tidak lagi harus pergi ke porno untuk mendapatkannya. Ia disaring kepada kita, dalam suatu bentuk, tak memandang apakah kita menginginkannya atau bahkan menyadarinya.
 
Jika kita menginginkan porno, saluran Playboy membawanya langsung ke ruang keluarga kita. Tetapi meskipun kita tidak menginginkannya, Paris Hilton, misalnya, membawanya ke ruang keluarga kita melalui, misalnya, iklan televisi untuk jaringan makanan cepat saji Carl's Jr. di mana Hilton—itu hanya bisa digambarkan dengan cara ini—melakukan seks oral pada sebuah hamburger. (Tidak lama setelah iklan itu tayang, komedian David Spade mengatakan bahwa ketika menonton TV dia melihat hamburger menuju ke pangkalan kedua dengan Paris Hilton.) Internet menawarkan jutaan situs porno kepada siapa saja yang ingin intipan. Tapi ia juga menawarkan intipan jika Anda tidak menginginkannya.
 
Sebagai contoh, salah satu dari kami, berminggu-minggu sebelum Natal beberapa tahun yang lalu, dengan seorang anak yang bersemangat meminta, membuat kesalahan mencari "toys" di Google. (Dan itu terjadi pada masa ketika, seperti kurang lazim sekarang, sebuah layar porno yang tertutup secara otomatis meluncurkan satu atau dua layar porno baru, yang menciptakan sebuah video game seketika di mana kita harus mengklik pop-up tertutup lebih cepat daripada pop-up baru bisa membuka—menampilkan bokong dan payudara!—sementara itu menyikut anak-anak dari lututnya dan berteriak, "Ayah perlu sedikit waktu di sini!")
 
Dalam hal ini, mainan itu sendiri telah, jika tidak dijadikan porno, dikonsep ke dalam layanan pornografi. Lihat lagi boneka Bratz. Boneka yang digambarkan di sini termasuk dalam jalur layanan yang disebut Bratz Play Sportz, tetapi sulit membayangkan olahraga apa pun—di luar video porno—yang membuat para wanita muda berseragam jala setinggi-paha dan sepatu stiletto (yang populer disebut pompa cabuli-aku). Boneka-boneka Bratz secara mendasar menentukan ulang keperempuanan—dan membuat banyak orang tua merasa seolah-olah porno sedang memburu anak-anak perempuan mereka.
 
Porno di mana-mana dalam kehidupan Amerika biasa pada 2008; bahkan, dalam buku ini kami menunjukkan bahwa porno adalah suatu tren budaya yang memengaruhi semua kelompok umur, semua ras, dan semua golongan, dan bahwa hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari biasa sedang dibentuk oleh porno. Bukannya porno telah menjadi arus utama, yang sering kita dengar, sebagaimana arus utamanya telah menjadi mencabul. Semakin lama di Amerika, kita menjalani porno dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Apa yang harus kita lakukan dengan perkembangan ini? Apakah kita lebih buruk, misalnya, daripada di masa sebelumnya, ketika pornografi diasingkan ke lorong belakang budaya kita? Pertanyaannya jauh dari sederhana. Bahkan, ia berguna sebagai titik masuk yang baik ke dalam kompleksitas fenomena porno.
 
Pertama, masa-masa sebelumnya itu, yang kadang-kadang dikenal sebagai masa lalu yang indah di Amerika, sering kali dihanyutkan perasaan. Kita lupa, misalnya, bahwa pada abad ke-19 anak-anak laki-laki biasa diberitahu oleh para penatua tepercaya—pendeta, ayah, kakek—bahwa dosa "kekotoran diri" tidak hanya akan membawa kutukan abadi di dunia berikutnya, tetapi juga kelemahan fisik dan bahkan kegilaan di dunia ini. Mereka sering duduk menyimak ceramah-ceramah mengerikan yang merupakan bagian dari kampanye moralis antimasturbasi. Gadis-gadis diberitahu oleh ibu, nenek, dan bibi mereka bahwa perempuan tidak mendapat kesenangan dari hubungan seks dan menanggungnya hanya untuk menghasilkan anak-anak. Satu-satunya wanita yang merupakan pengecualian dari aturan ini adalah pelacur, yang sensualitasnya yang seharusnya abnormal menggiring mereka ke kehidupan yang tercela di jalanan.
 
Penderitaan adalah akibat dari ketidaktahuan, penindasan, dan kemunafikan seks macam itu. Pada 1856 Walt Whitman menulis puisi pertama dalam sastra Amerika yang membahas masturbasi, “Spontaneous Me,” yang berusaha meyakinkan kaum pria dan wanita muda bahwa dorongan-dorongan tidak tertahankan macam itu benar-benar alami.

Porno telah selalu ada dalam suatu bentuk di Amerika, dan ia bisa ditemukan dalam semua budaya dunia, kuno dan modern. Jika tidak lain, universalitas porno memaksa kita untuk mengakui suatu kenyataan mendasar: kaum pria dan wanita, sesungguhnya, adalah makhluk seks. Dan semakin banyak porno muncul dari bayang-bayang dan jalan belakang, semakin langsung dan jujur kita sebagai sebuah budaya harus menghadapi seksualitas kita sendiri dan memutuskan apa yang akan kita perbuat darinya.
 
Di Amerika saat ini, porno telah menghancurkan sebagian besar ajaran lama. Tentu ada perkecualian bergantung pada di mana kita tinggal dan apakah kita mematuhi suatu iman, tetapi lebih sulit sekarang daripada sebelumnya, misalnya, untuk berpendapat bahwa anak-anak laki-laki dan perempuan puber seharusnya tidak pernah bermasturbasi. Atau bahwa kita mengalami hasrat seks hanya dengan "satu cinta sejati" kita, sehingga berhubungan seks ("bercinta") menjadi bukti positif telah menemukan orang pilihan yang kita ditakdirkan untuk nikahi. Atau bahwa para wanita normal tidak memiliki dorongan seks, kepalsuan yang telah runtuh sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu—standar ganda seks sebagai salah satu sisa yang terakhir untuk mulai terhuyung-huyung di zaman kita sendiri. Atau, mengutip contoh lain dari ketidaktahuan seks yang baru sekarang (ketika para lansia tampil menonjol di banyak situs porno) mulai runtuh: bahwa lewat usia tertentu, mungkin enam puluh atau tujuh puluh, pria dan wanita tidak lagi ada sebagai makhluk seks. Maka, untuk semua minus yang ada, jelas ada juga sisi positif dari porno.


Unduh GRATIS The Porning of America (1 Mb)

Vagina Industri: Ekonomi Politik Perdagangan Seks Global

Industrialisasi prostitusi (pelacuran) dan perdagangan seks telah menciptakan pasar global bernilai miliaran dolar, yang melibatkan jutaan wanita, yang memberi sumbangan besar bagi ekonomi-ekonomi nasional dan global.

The Industrial Vagina meneliti bagaimana pelacuran dan aspek-aspek lain dari industri seks telah berubah dari sebagai praktik-praktik skala kecil, gelap dan yang dibenci secara social menjadi sektor-sektor pasar sah yang sangat menguntungkan yang sedang dilegalkan dan dibenarkan oleh banyak pemerintah. Sheila Jeffreys menunjukkan bagaimana prostitusi telah diglobalisasi melalui
pengkajian:

• pertumbuhan pornografi dan jangkauan globalnya yang baru
• menjamurnya toko-toko dewasa, klub-klub tari telanjang dan agen-agen pendamping
• prostitusi militer dan kekerasan seksual dalam perang
• pernikahan dan industri pengantin pesanan melalui pos
• meningkatnya pariwisata seks dan perdagangan perempuan

Dia berpendapat bahwa melalui praktik-praktik ini, ketundukan kaum perempuan telah dialihdayakan dan bahwa negara-negara yang melegalkan industri ini sedang bertindak sebagai germo, yang memungkinkan para laki-laki pembeli di negara-negara di mana kesetaraan kaum perempuan mengancam dominasi laki-laki untuk membeli akses ke tubuh kaum perempuan dari negara-negara miskin yang dibayar untuk kepatuhan seks mereka.

Kontribusi besar dan provokatif ini adalah bacaan penting bagi semua orang yang berminat pada isu-isu perempuan, gender dan globalisasi kritis juga para mahasiswa dan sarjana ekonomi politik internasional.

Sheila Jeffreys adalah Profesor di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Melbourne. Dia adalah penulis enam buku lain tentang sejarah dan politik seksualitas, termasuk Beauty and Misogyny (Routledge, 2005). Dia adalah anggota pendiri Koalisi Menentang Perdagangan Perempuan cabang Australia.

Isi

Pendahuluan: dari berlaku sebagai mucikari menjadi sektor pasar menguntungkan
1 Para pejuang hak wanita dan industri seks global: pemandu sorak atau kritikus?
2 Pernikahan dan pelacuran
3 Ekonomi politik internasional pornografi
4 Ledakan klub tari telanjang  
5 Pelacuran militer
6 Wisata prostitusi: kaum perempuan sebagai kesenggangan kaum pria
7 Memasok permintaan: perdagangan wanita
8 Negara sebagai mucikari: melegalkan prostitusi
9 Kesimpulan: memutar kembali industri seks global


Unduh GRATIS The Industrial Vagina (1,36 Mb)

Share:

Archives