hendyk's blog

Gila Film: Penggemar, Bintang, dan Kultus Pesohor
 
© SAMANTHA BARBAS, 2001
 
ISI
 
Pendahuluan
BAB SATU
Dari Rol Film  ke Kenyataan
BAGIAN DUA
Kultus Kepribadian
BAB TIGA
Peluang Seumur Hidup
BAB EMPAT
Intipan ke Dalam
BAB LIMA
Klub Penggemar Bintang Film
BAB ENAM
Pemandangan dari Hollywood
BABTUJUH
Bahaya Kepenggemaran
Kesimpulan

PENDAHULUAN

ANTARA PERANG DUNIA PERTAMA DAN KEDUA, perfilman Amerika berkembang. Dengan bioskop-bioskop mewah, produksi- produksi layar mewah, dan dewi-dewi film yang berbusana cantik, film-filmnya lebih dari sekadar hiburan. Bagi jutaan orang Amerika, Hollywood adalah pabrik impian, yang menghasilkan fantasi-fantasi rumit tentang kemewahan, kesuksesan, dan romansa.
 
Selama tahun-tahun yang ditandai dengan perubahan sosial dan budaya yang luar biasa itu, para bintang film menjadi selebritas atau pesohor Amerika yang paling mencolok. Koran-koran, majalah-majalah, dan radio dengan patuh mencatat datang dan perginya para aktor dan aktris terkenal. Begitu terpesonanya orang-orang Amerika sehingga pers sering mencurahkan lebih banyak perhatian kepada para bintang daripada untuk hal-hal yang lazimnya bernilai berita. Pada tahun 1926, para kritikus mengeluh bahwa pemakaman Rudolph Valentino menerima jauh lebih banyak liputan media daripada meninggalnya pada hari yang sama rektor Harvard Charles Eliot. Pada 1935, perceraian Mary Pickford dan Douglas Fairbanks dilaporkan di halaman depan New York Times.
 
Dalam iklim keranjingan-film ini, orang-orang Amerika dengan rakus melahap segala yang ada hubungannya dengan Hollywood. Mereka dengan penuh semangat memindai artikel-artikel majalah yang menjelaskan bagaimana film-film diarahkan (disutradarai), laga-laga dilakukan, dan kostum-kostum dibuat. Mereka menyimak iklan yang tak terhitung jumlahnya yang mengaku mengungkap rahasia-rahasia kecantikan para aktris glamor. Mereka bahkan membaca tentang para penggemar film, yang entah bagaimana bisa menerima jatah sorotan mereka sendiri.
 
Antara 1910 dan 1950-an, para penggemar film sering muncul di media populer. Film-film, artikel-artikel majalah, dan novel-novel memamerkan gairah dan antusiasme mereka dengan uraian-uraian yang cenderung, secara tidak mengejutkan, menuju sensasional. Seolah ingin meyakinkan penonton bioskop rata-rata bahwa cinta mereka terhadap film belum mencapai ekstrim fanatik, para penulis dan pembuat film umumnya menggambarkan para penggemar film sebagai naif, dan terlalu bergairah.
 
Pada tahun 1916, misalnya, majalah McClure memberi tahu para pembaca tentang penyakit baru yang telah menjangkiti banyak orang Amerika—kegandrungan film atau "filmitis" Penyakit segera menjadi metafora populer untuk kegandrungan, yang terulang tanpa henti di media. Dikuasai oleh virus film, para penggemar diduga kehilangan kendali indra-indra mereka. Menurut New York Times, tampilan klasik kegilaan film berlangsung pada pemakaman Valentino, di mana ribuan pengagum nakal memadati jalan-jalan untuk melihat sekilas peti matinya. Bahkan Hollywood menyindir penggemar film. Pada tahun 1924, ia memproduksi Merton of the Movies tentang seorang pemuda canggung yang sangat mencintai film sampai-sampai dia memutuskan untuk mengejar karir akting. Pada 1931, film serupa dibuat dengan judul Movie Crazy, dengan Harold Lloyd melakukan kejenakaan dari aspiran Hollywood yang tulus tapi konyol.
 
Mungkin penggambaran paling dramatis dan menakutkan atas para penggemar film era ini muncul dalam The Day of the Locust karya Nathanael West, sebuah novel satir menggigit yang ditulis pada tahun 1938. Dalam bab terakhir The Day of the Locust, sang protagonis, seniman yang sedang berjuang Tod Hackett, secara tidak sengaja menemukan kerumunan penggemar yang menunggu di luar suatu pemutaran perdana film Hollywood. Segera dia dikuasai oleh perasaan kesepian dan putus asa yang menyakitkan. Para pengamat selebriti ini, Tod menyadari, sedang mencari dalam kegandrungan film kompensasi atas kekosongan jiwa mereka. “Adalah suatu kesalahan untuk menganggap mereka pencari rasa ingin tahu yang tidak berbahaya,” tulis West. "Mereka buas dan pedas, terutama yang setengah baya dan tua, dan telah jadi demikian akibat kebosanan dan kekecewaan."
 
Ketika bintang-bintang tiba di premier, kerumunan itu berubah keras, dengan agresif menjambak rambut dan pakaian para selebriti. “Melihat para pahlawan mereka, massa akan berubah kesurupan,” West mengisahkan. “Secara pribadi tujuan para anggota massa mungkin hanya untuk mendapatkan suvenir, tapi secara kolektif ia akan meraih dan merobek.” Tumbuh makin hingar bingar, kerumunan itu segera meledak menjadi massa yang mengamuk. Meskipun ia mencoba melarikan diri, Tod tersapu ke dalam pusatnya, terbawa maju dan mundur oleh massa yang mendorong, menjerit, dan berdenyut. Para penggemar terkubur, memar, dan terinjak-injak; Tod, bingung dan terluka, dibawa pergi oleh ambulans yang meraung-raung. Dalam konteks Hollywood yang tidak berarti dan tidak nyata, kemungkinan keras fanatik yang melekat dalam kegandrungan film terdorong ke perwujudan yang menakutkan.
 
Pada tahun yang sama, studio Metro-Goldwyn-Mayer memberi bangsa Amerika sebuah potret yang sama sekali berbeda tentang penggemar film. Dalam suatu musical ceria, The Broadway Melody of 1938, Judy Garland memainkan remaja yang manis tapi pusing yang jatuh cinta pada bintang favoritnya, Clark Gable. Pena di tangan, bersiap untuk menulis surat penggemar, dia menatap potret sang aktor dan menyanyikan penuh gairah ketergila-gilaannya—bagaimana dia jatuh cinta pada Gable saat menontonnya dalam It Happened One Night (1934), bagaimana Gable tersenyum padanya selama suatu penampilan pribadi di sebuah bioskop, bagaimana dia tampak baginya "orang paling baik di film-film." Seiring adegannya memudar, dia menyihir ke kamera dan bersumpah untuk
memuja idolanya yang tampan selamanya.
 
Kerumunan hiruk pikuk dan siswi sekolah yang konyol; pengamat selebriti yang letih dan remaja yang tergila-gila—dua stereotip populer dari kegandrungan film ini akan ada berdampingan sepanjang banyak abad ke-20. Meskipun pemuja bintang remaja MGM jauh kurang mengancam daripada paruh baya West, kedua sosok ada di pinggiran masyarakat. Tidak pernah sebagai aktivitas yang benar-benar “normal”, kegandrungan film seperti yang digambarkan dalam budaya populer tampaknya menarik mereka yang kesepian, yang naif, dan belum dewasa. Setiap perilaku penggemar yang tampaknya menegaskan citra ini—para penggemar keranjingan yang mencoba menyerang selebriti—akan sepatutnya dilaporkan oleh pers sebagai bukti.
 
Tetapi ketika West menulis satirnya dan Judy bernyanyi untuk Clark, ribuan penggemar film, yang bukan remaja maupun pedas, terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang terlalu biasa untuk pers. Di suatu tempat di New York, seorang pengusaha menumbuhkan rasa suka pada Greta Garbo. Di Nebraska, seorang ibu dari empat anak membicarakan cintanya pada Fred Astaire dengan tetangga sebelah. Di Texas, seorang guru sekolah diam-diam bermimpi menjadi bintang film. Dekat Chicago, seorang nenek 70-tahun mengumpulkan foto-foto Joan Crawford dari edisi terbaru majalah Photoplay .
 
Kegandrungan film di era klasik sinema Hollywood—dari permulaan sistem bintang film pada tahun 1910 sampai penurunan sistem studio pada akhir 1940-an—jauh kurang dramatis dan sensasional, dan jauh lebih kompleks dan menarik, daripada ia telah biasanya digambarkan. Jauh dari ketidakpuasan marjinal, para penggemar film berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, mereka ikut serta dalam berbagai kegiatan. Lebih dari hanya para pengamat selebritas dan penulis surat, para penggemar berkontribusi pada majalah, mengikuti klub-klub penggemar, dan memberikan saran ke studio-studio film. Sebagian menjadikan aktivitas penggemar bagian utama kehidupan mereka, mencurahkan berjam-jam setiap hari pada gairah mereka. Bagi yang lain, kegandrungan hanya suatu hobi biasa, yang dikejar sesekali atau secara sporadis.
 
Namun terlepas dari perbedaan mereka, para penggemar memiliki satu kesamaan. Tidak puas hanya menonton film, mereka berusaha terus memengaruhi, mengendalikan, dan menjadi terlibat langsung dalam proses pembuatan film. Terkadang ini berbentuk kampanye menulis-surat. Dalam usaha mencoba mendapatkan publisitas lebih baik bagi para idola mereka dan peran-peran yang lebih menonjol, para penggemar membanjiri studio-studio dengan ribuan maksud ngotot. Lainnya mengirimi studio-studio naskah-naskah dan ide-ide cerita untuk film-film. Sejumlah penggemar yang ambisius bahkan mencoba menjadi aktor. Dari 1910 hingga sekitar 1930, ribuan penggemar berbondong-bondong ke Hollywood dengan harapan meluncurkan karir film. Cerita kegandrungan film, kebanyakan, adalah cerita cara para penggemar menolak menerima budaya massa secara pasif dan, sebaliknya, menjadi terlibat aktif dalam hiburan mereka.
 
Ini juga kisah cara para penggemar secara signifikan memengaruhi Hollywood. Khawatir akan amarah para penggemar yang marah—khususnya, potensi kerugian loket tiket dan publisitas negatif—studio-studio sering mengubah para pemeran dan keputusan publisitas menanggapi keluhan para penggemar. Kadang-kadang studio-studio bahkan mengubah penampilan dan kepribadian para bintang ketika mereka menerima permintaan yang cukup. Pada 1930-an, misalnya, ketika para penggemar menulis kepada MGM menuntut pahlawan yang berbicara-keras, studio itu
menciptakan suatu pribadi agar sesuai dengan tuntutan itu. Melalui pemilihan-peran yang cermat dan kampanye publisitas yang terampil, Clark Gable, seorang aktor panggung yang tidak istimewa, diubah menjadi bintang kasar, menawan, dan sangat populer. Penggemar sebenarnya berperan besar menciptakan pujaan-pujaan mereka.
 
Tetapi dinamikanya sering berjalan sebaliknya. Seperti halnya para penggemar kadang mengendalikan Hollywood, Hollywood juga mengendalikan para penggemar. Memanfaatkan minat para penggemar pada para bintang, industri film, dengan bantuan penerbit dan pengiklan, menjual kepada para penggemar berbagai produk konsumen. Mereka mendesak para penggemar untuk melihat konsumsi sebagai bentuk partisipasi: daripada menjadi secara pribadi terlibat dalam film, para penggemar mungkin ikut serta dengan membeli kosmetik dan pakaian yang didukung oleh bintang-bintang. Antara 1910 dan 1950, gairah terhadap film menarik bangsa Amerika tidak hanya ke dalam budaya penggemar tetapi juga ke dalam budaya konsumen yang berkembang pesat dan ke dalam budaya selebriti yang sedang berkembang yang berpusat di sekitar eksploitasi dan kepribadian para aktor paling populer.
 
Mungkin cara paling penting para penggemar menjadi terlibat dalam film menyangkut apa yang saya sebut pencarian keaslian. Sejak masa paling awal perfilman, para penggemar telah terpesona sekaligus dibuat kesal oleh kemampuan film untuk menciptakan ilusi kehidupan yang realistis. Meskipun senang melihat gambar foto bergerak, penggemar sering bertanya-tanya apakah mereka harus memercayai mata mereka. Bagaimana jika aksi dan pengejaran yang mereka lihat di layar itu bohongan? Bagaimana jika para bintang film hanya citra dan tidak ada wujudnya? Kecuali mereka
hadir ketika film-film itu dibuat, tidak ada cara untuk mengetahui—dan kurangnya pembuktian ini, bagi banyak penggemar, menakutkan. Dalam upaya untuk menegaskan bahwa film-film memiliki dasar dalam kenyataan, penggemar mencoba belajar sebanyak mungkin tentang dunia di balik layar. Penggemar ingin tahu: apakah para bintang sama memesona dalam kehidupan nyata seperti di film? Seperti apakah para aktor dan aktris sebenarnya?
 
Pada tahun-tahun sebelum 1910, pertanyaan-pertanyaan ini seringkali sulit dijawab. Karena publisitas bintang film belum menjadi praktik industri film yang meluas, penggemar harus mencecar studio-studio dengan pertanyaan-pertanyaan dan surat-surat untuk mengetahui informasi terperinci tentang para aktor. Namun, pada 1915 situasinya telah berubah. Baik penerbitan arus utama mapan—seperti Collier's dan New York Times—serta sejumlah majalah penggemar film baru—Photoplay, Motion Picture, dan Shadowland, antara lain—mengisi halaman-halaman dengan fakta-fakta tentang bintang-bintang Hollywood. Meskipun penggemar senang dengan melimpahnya informasi, pada saat yang sama mereka bimbang. Seringkali didasarkan pada gosip atau rumor yang belum dikonfirmasi, jurnalisme selebriti baru tampaknya memunculkan sebanyak pertanyaan seperti ia menjawab. Bagaimana bisa para pembaca tahu apakah artikel-artikel itu benar? Dengan begitu banyak cerita yang bersaing, yang mana harus mereka percayai? Dalam aspek lain dari pencarian mereka untuk keaslian, para enggemar sering mencoba untuk mengalahkan wartawan. Sebagian penggemar mencoba mengungkap kebenaran tentang para aktor dengan langsung bersurat dengan mereka. Lainnya berjalan ke Hollywood dan berkemah di depan rumah para selebritas. Banyak penggemar tidak akan puas sampai mereka tahu sendiri fakta-fakta tentang bintang-bintang itu.
 
Membayangkan kegandrungan sebagai suatu pencarian keaslian, pengaruh, dan keterlibatan—dengan kata lain, upaya untuk memahami, mengendalikan, dan ikut serta dalam film—menyingkap sejumlah masalah penting dalam budaya Amerika abad kedua puluh. Pertama, ia bertentangan dengan klaim para kritikus yang melihat fenomena penggemar sebagai tanpa tujuan dan sepele. Ia juga menambah dimensi lain pada banyaknya studi mendalam tentang perilaku penggemar yang telah diterbitkan dalam 20 tahun terakhir. Seperti John Fiske, Janice Radway , Henry Jenkins, dan cendekiawan budaya populer lainnya telah menulis, para penggemar tidak hanya mengonsumsi budaya massa tetapi juga memainkannya. Sadar akan sifat impersonal dan komersial dari budaya populer, penggemar tetap menumbangkannya untuk melayani kepentingan pribadi mereka sendiri. Banyak penggemar, misalnya, telah menggunakan kecintaan mereka pada penyanyi atau genre film tertentu untuk menemukan kekuatan dan harga diri. Para anggota klub penggemar juga bercerita tentang kedekatan dan persahabatan yang telah dihasilkan dari minat-minat mereka yang sama. Beberapa penggemar bahkan menggunakan film, program televisi, atau tokoh fiksi favorit mereka sebagai inspirasi untuk novel dan cerita pendek mereka sendiri. Jika dilihat dalam konteks pencarian keaslian, pengaruh, dan keterlibatan, upaya-upaya perampasan budaya ini mungkin dilihat sebagai lebih dari sekedar upaya untuk menyuntikkan makna pribadi ke dalam hiburan massa. Dengan menjadi erat dan aktif terlibat dalam hiburan mereka, para penggemar mungkin berusaha membuat
lebih nyata dan dekat realitas tiruan yang disajikan oleh film, televisi, dan media massa lainnya.
 
Tapi tidak hanya penggemar film telah peduli dengan permasalahan ini. Banyak penonton bioskop biasa bertanya-tanya tentang hubungan antara sinema dan kehidupan; para pemirsa televisi dan penggemar musik popular juga telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang orang-orang di balik gambar dan suara. Dengan kata lain, pertumbuhan budaya yang dimediasi massa, di mana tiruan-tiruan realitas sering menggantikan pengalaman-pengalaman asli, belum mulus dan tanpa cacat. Bertolak belakang dengan apa yang banyak cendekiawan telah menyarankan, bangsa Amerika belum secara pasif menerima citra-citra ini. Kita tidak mati-matian dan tanpa pertanyaan
mengonsumsinya tetapi secara aktif mempertanyakan dan menyelidikinya.
 
Setelah hampir 100 tahun perfilman, bangsa Amerika masih terpesona oleh sinema. Meskipun kebanyakan dari kita merasa cukup yakin tentang cara kerja film—bahwa kamera menggambarkan versi realitas yang terbelokkan dan terbangun—kita masih melakukan tindak-tindak pembuktian.
 
Meskipun kebanyakan dari kita menerima bahwa kita tidak bisa mengambil bagian secara langsung dalam proses pembuatan film, kita masih ingin merasakan sebagian dari film dengan mengenali cara kerja internal studio-studio film dan rincian kehidupan para bintang. Selama kita pergi ke bioskop, kita mungkin akan selalu terpesona oleh pertanyaan keaslian dan keterlibatan. Dan seiring teknologi abad kedua puluh satu memberi kita lebih banyak bentuk hiburan—dan lebih mirip kehidupan— mungkin menjadi semakin mendesak permasalahan ini.


Unduh GRATIS Movie Crazy (4,8 Mb)

Share:

Archives