Selayang Pandang Hiburan | Forum

Hendy Kusmarian
Hendy Kusmarian Nov 22 '17
Para penonton televisi pinggir jalan di India dihibur oleh pertandingan kriket langsung antara India dan Pakistan (2003)

Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan…

Hiburan adalah sebentuk kegiatan yang menahan perhatian dan minat penonton, atau memberikan kesenangan dan kegembiraan. Bisa suatu gagasan atau tugas, tapi lebih mungkin berupa salah satu kegiatan atau kejadian yang telah berkembang selama ribuan tahun khususnya untuk tujuan menjaga perhatian sekumpulan pemirsa. Meskipun perhatian orang-orang dijaga oleh hal-hal berbeda, karena orang-orang memiliki selera yang berbeda dalam hiburan, kebanyakan bentuk bisa dikenali dan akrab. Mendongeng, musik, drama, tari, dan berbagai jenis penampilan terdapat dalam semua budaya, didukung dalam lingkungan kerajaan, dikembangkan menjadi bentuk-bentuk yang canggih dan seiring waktu menjadi tersedia untuk semua warga. Proses ini telah dipercepat di zaman modern oleh industri hiburan yang merekam dan menjual produk-produk hiburan. Hiburan berevolusi dan bisa disesuaikan dengan skala apa pun, mulai dari seseorang yang memilih hiburan pribadi dari sederetan besar produk prarekam; sampai suatu perjamuan yang disesuaikan untuk dua orang; sampai segala ukuran atau jenis pesta, dengan musik dan tari yang sesuai; sampai pertunjukan yang ditujukan bagi ribuan orang; dan bahkan untuk khalayak global.

Pengalaman dihibur atau terhibur telah jadi sangat terkait dengan hiburan, sehingga satu pemahaman umum dari gagasan ini adalah kesenangan dan tawa, meskipun banyak hiburan memiliki tujuan serius. Ini mungkin terjadi dalam berbagai bentuk upacara, perayaan, pesta keagamaan, atau sindiran misalnya. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa apa yang tampak sebagai hiburan mungkin juga adalah sarana mencapai wawasan atau pertumbuhan intelektual.

Sebuah aspek penting dari hiburan adalah penontonnya, yang menjadikan suatu aktivitas rekreasi atau kesenggangan pribadi hiburan. Penontonnya mungkin berperan pasif, seperti dalam kasus para penonton drama, opera, acara televisi, atau film; atau peran penontonnya mungkin aktif, seperti dalam hal permainan, di mana peran peserta/penonton mungkin terbalik secara rutin. Hiburan bisa bersifat publik atau pribadi, yang melibatkan penampilan bernaskah formal, seperti dalam hal teater atau konser; atau tanpa naskah dan spontan, seperti dalam hal permainan anak-anak. Sebagian besar bentuk hiburan telah bertahan selama berabad-abad, berkembang karena perubahan budaya, teknologi, dan mode. Film dan video game, misalnya, meskipun menggunakan media yang lebih baru, terus menyampaikan cerita, drama, dan memainkan musik. Festival yang dikhususkan untuk musik, film atau tari memungkinkan penonton dihibur selama beberapa hari berturut-turut.

Beberapa kegiatan yang pernah dianggap menghibur, khususnya hukuman di depan umum, telah dihapus dari arena publik. Lainnya, seperti anggar atau panahan, yang dulu keterampilan yang perlu bagi sebagian orang, telah menjadi olahraga serius dan bahkan profesi bagi para pesertanya, yang pada saat sama berkembang menjadi hiburan dengan daya tarik lebih luas bagi pemirsa yang lebih besar. Dengan cara yang sama, keterampilan-keterampilan lain yang perlu, seperti memasak, telah berkembang menjadi pertunjukan di kalangan profesional, yang dipentaskan sebagai kompetisi global dan kemudian disiarkan untuk hiburan. Apa yang adalah hiburan bagi satu kelompok atau individu bisa dianggap sebagai pekerjaan oleh yang lain.

Bentuk-bentuk akrab hiburan mampu melintasi media berbeda dan telah menunjukkan potensi yang tampaknya tak terbatas untuk rekayasa ulang yang kreatif. Ini telah memastikan kelangsungan dan keawetan banyak tema, citra, dan struktur.

Psikologi dan Filsafat

Hiburan bisa dibedakan dari kegiatan-kegiatan lain seperti pendidikan dan pemasaran meskipun dua bidang ini telah belajar bagaimana menggunakan daya tarik hiburan untuk mencapai tujuan-tujuannya yang berbeda. Pentingnya hiburan dan dampaknya diakui oleh para ilmuwan dan kecanggihannya yang semakin meningkat telah memengaruhi praktik-praktik dalam bidang-bidang lain.

Para psikolog mengatakan fungsi dari hiburan media adalah "pencapaian pemuasan". Tidak ada hasil atau manfaat terukur lain biasanya diharapkan dari itu (kecuali mungkin skor akhir dalam hiburan olahraga). Ini berbeda dengan pendidikan (yang dirancang dengan tujuan mengembangkan pemahaman atau membantu orang-orang belajar) dan pemasaran (yang bertujuan mendorong orang-orang untuk membeli produk niaga). Namun, perbedaan-perbedaan itu menjadi kabur ketika pendidikan berusaha menjadi lebih "menghibur" dan hiburan atau pemasaran berusaha menjadi lebih "mendidik". Campuran tersebut sering dikenal dengan istilah "edutainment" atau "infotainment". Psikologi hiburan serta psikologi belajar telah diterapkan kepada semua bidang ini. Sebagian hiburan-pendidikan adalah upaya serius untuk menggabungkan ciri-ciri terbaik dari keduanya. Sebagian orang terhibur oleh rasa sakit orang lain atau gagasan ketidakbahagiaan mereka.

Suatu hiburan mungkin melampaui pemuasan dan menghasilkan kearifan pada pemirsanya ketika ia secara lihai memandang pertanyaan-pertanyaan filosofis universal seperti "Apa arti hidup?", "Apa arti menjadi manusia?", "Apa hal yang benar untuk dilakukan?", atau "Bagaimana saya tahu apa yang saya tahu?". Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menggerakkan banyak kisah dan drama, entah itu disajikan dalam bentuk cerita, film, drama, puisi, buku, tari, komik, atau permainan. Novel memberi lingkup yang besar untuk menyelidiki tema-tema ini sambil menghibur para pembacanya. Sebuah contoh dari karya kreatif yang memandang pertanyaan-pertanyaan filosofis secara begitu menghibur sehingga ia telah disajikan dalam pelbagai macam bentuk adalah The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy. Awalnya sebuah komedi radio, kisah ini menjadi begitu populer sehingga juga telah muncul sebagai novel, film seri televisi, pertunjukan panggung, komik, buku audio, piringan hitam, game petualangan dan game online, ide-idenya menjadi rujukan populer dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Tema-temanya mencakup makna hidup, serta "etika hiburan, kecerdasan buatan, banyak dunia, Tuhan, dan metode filsafat".

Bisnis Pertunjukan

Bisnis pertunjukan, kadang disingkat jadi showbiz, adalah istilah untuk semua aspek dari industri hiburan. Dari sisi bisnis (termasuk manajer, agen, produser, dan distributor), istilah ini berlaku pada elemen kreatifnya (termasuk para seniman, penampil, penulis, musisi, dan teknisi). Dalam industri hiburan modern, showbiz sering dikaitkan dengan industri mode (menciptakan tren dan fashion) dan memperoleh hak kekayaan intelektual dari penelitian dalam bisnis hiburan.

Sektor-sektor hiburan bisa dibagi ke dalam subsektor-subsektor berikut:
•    Taman hiburan
•    Animasi
•    Pengisian pemeran (casting)
•    Manajemen acara
•    Film
•    Perjudian
•    Produsen game
•    Video rumah dan distributor video rumah
•    Media
•    Musik
•    Bisnis seks
•    Efek khusus (special effects)
•    Manajemen olahraga dan promosi acara olahraga
•    Agen bakat
•    Produksi teater
•    Mainan dan Merchandise
•    Kesenggangan

Tinjauan Khusus Tentang Televisi

Dewasa ini, media yang paling merajalela untuk pertukaran informasi adalah televisi. Ialah media yang sejauh ini mengambil energi psikis kita terbanyak. Ia juga yang paling ampuh dalam hal menarik dan menahan perhatian, dan karena itu yang potensinya paling terbuka untuk memperkaya, juga memanipulasi dan mengeksploitasi, pikiran. Karena objek ini menafikan begitu banyak alternatif lain dari perhatian, sangat penting kita belajar mengendalikannya.

Televisi bersaing dengan media-media lain, seperti membaca atau musik; di dalam media ini sendiri, saluran-saluran dan acara-acara berbeda berjuang untuk menarik perhatian pemirsa. Pembedaan ini penting karena kebanyakan pembahasan tentang televisi terfokus pada perbedaan-perbedaan antara acara-acara.

Suatu argumen populer adalah bahwa, jika acara-acara lebih bagus diproduksi, pengalaman menonton akan lebih baik. Meski ini benar, riset juga menunjukkan bahwa menonton TV sendiri berdampak sangat ampuh dan tersendiri, tidak memandang acaranya. Sekedar tindak menonton TV punya akibat-akibat berbeda bagi pikiran daripada membaca atau mendengarkan musik, dan sangat berbeda daripada akibat-akibat yang muncul pada bentuk-bentuk lebih aktif dari kesenggangan.

Televisi di seluruh dunia tampaknya mempunyai efek-efek berikut ini pada para penonton: Ia membuat mereka merasa sangat santai, tapi juga jauh kurang aktif, awas/waspada, secara mental terfokus, puas, atau kreatif dibandingkan dengan hampir segala lainnya yang mungkin mereka lakukan.

Pada saat yang sama, dalam setiap budaya di mana TV terjangkau, orang-orang menontonnya lebih daripada mereka menekuni segala kegiatan lain dalam waktu luang mereka. Televisi adalah contoh dramatis dari sebuah konsep yang menyerbu pikiran dan berkembang biak di situ tanpa peduli akan kesejahteraan tuannya.

Seperti obat-obatan, menonton TV awalnya memberikan suatu pengalaman positif. Tetapi setelah si penonton tergaet, medianya menggunakan kesadaran tanpa memberikan faedah-faedah lebih lanjut. Bahkan, riset menandakan bahwa para penonton berat menikmati TV kurang daripada para penonton ringan, dan bahwa semakin banyak orang menonton TV dalam satu duduk menjadi makin buruk suasana-suasana hatinya.

Tentu tampaknya tidak beralasan untuk berdalih bahwa televisi adalah sebuah alat yang membantu manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Ia tidak meningkatkan suasana-suasana hati (mood), tidak juga meningkatkan peluang kelangsungan hidup. Yang dilakukan televisi hanya menggandakan dirinya: layar menjadi lebih besar, pixel berlipat ganda, komedi-komedi situasi melahirkan komedi-komedi situasi lain, talk show memunculkan talk show lebih lanjut, sementara itu menggunakan energi psikis kita sebagai media pertumbuhan mereka.

Tetapi kita tidak sama sekali tanpa daya menghadapi serangan media. Tampaknya, orang-orang yang menguasai kesadaran mereka menarik sejumlah manfaat dari menonton televisi, sedangkan mereka yang kurang mampu menyalurkan perhatian mereka akan tunduk pada obyek ini. Pikiran mereka menjadi terkoloni oleh citra-citra hidup di layar, dan mereka akhirnya kurang mampu berbuat lain selain menekan tombol dan menonton.

Orang-orang yang rawan terhadap ketagihan TV cenderung kurang terdidik, memiliki pekerjaan yang kurang menyenangkan, kehidupan keluarga yang kurang memuaskan. Mereka yang cenderung kurang menonton TV melakukannya secara lebih kritis dan dengan lebih banyak pemilahan. Mereka mendapatkan dari media ini apa yang mereka inginkan; mereka mengendalikannya, bukannya dikendalikan olehnya.

Dalam hal ini TV memberikan suatu contoh sangat bagus dari apa yang terlibat dalam hubungan kita dengan konsep-konsep secara umum. Jika kita tidak mengambil kendali dan menggunakan konsep-konsep demi tujuan-tujuan kita sendiri, mereka memang condong untuk mengambil alih dan menggunakan kita demi tujuan-tujuannya sendiri. Tentu konsep-konsep tidak tahu apa tujuan-tujuan mereka, tetapi sering sekali kita juga tidak tahu tujuan-tujuan kita. Atau lebih tepatnya, kita tidak tahu tujuan-tujuan penciptaan kita.

Share: