Bagaimana Kita Jadi Menyenangi Dunia | Forum

Hendy Kusmarian
Hendy Kusmarian Nov 23 '17
Semua berawal dalam pikiran. Kita jadi menyerap dan terbiasa pada permainan, hiburan, dan sumber-sumber kesenangan lainnya karena hal-hal ini awalnya menjaga perhatian kita tetap tertata dan terfokus pada sesuatu setelah kita lepas dari rutinitas-rutinitas wajib (pekerjaan) kita, serta hal-hal ini ternyata menyenangkan. Begini penjelasannya.

Meskipun kita masih cenderung percaya bahwa kita bisa memikirkan apa pun yang kita inginkan, kapan pun kita ingin, ada bukti bahwa proses-proses pikiran itu kurang tertib. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kekacauan, bukan tertib, adalah keadaan alami dari pikiran. Ketika tidak ada rangsangan eksternal yang melibatkan perhatian kita—seperti suatu percakapan, suatu tugas yang harus dilaksanakan, koran atau buku untuk dibaca, atau sebuah acara di TV—pikiran-pikiran kita mulai mengalir secara acak. Bukannya seuntai pengalaman mental yang menyenangkan dan logis, gagasan-gagasan yang terpotong-potong muncul entah dari mana, dan sekalipun kita berupaya untuk melakukannya, mustahil untuk kembali ke suatu alur pemikiran yang sejalan selama lebih dari beberapa menit.

Satu bukti bagi fakta ini berasal dari kajian-kajian tentang peniadaan rangsangan. Orang-orang yang dikurung sendirian—baik dalam kamp-kamp penjara atau dalam tanki-tanki pengucilan eksperimen—tempat mereka terputus dari segala pola bunyi, pandangan, atau aktivitas yang bermakna, segera mulai kehilangan jejak atau arah dari pikiran-pikiran mereka, dan bercerita mengalami fantasi-fantasi dan halusinasi-halusinasi aneh tak terkendali.

Pikiran memerlukan informasi yang tertata untuk menjaganya tetap tertib. Selama ia mempunyai tujuan-tujuan jelas dan menerima umpan-balik atau masukan, kesadaran terus aktif. Inilah sebabnya permainan, olahraga, dan ritual adalah sebagian dari kegiatan-kegiatan yang paling memuaskan—semuanya menjaga perhatian tetap tertata di dalam batas-batas sempit dan aturan-aturan yang jelas. Bahkan pengalaman bekerja pada suatu pekerjaan, yang orang-orang sering mengaku mereka benci, mempunyai ciri-ciri ketertiban dan kesinambungan ini. Saat ciri-ciri ini hilang, kekacauan datang lagi.

Suatu temuan terkait lainnya adalah bahwa, dalam kehidupan sehari-hari yang normal, orang-orang melaporkan merasa paling lesu dan tidak puas ketika mereka sendirian tanpa suatu kegiatan. Ironisnya, justru ketika kita tampaknya paling bebas, ketika kita bisa melakukan segala yang kita inginkan, kita paling tidak mampu bertindak. Dalam situasi-situasi ini pikiran cenderung berjalan kesana-kemari, dan cepat atau lambat ia tersusupi suatu pemikiran yang menyakitkan atau hasrat yang tak terpenuhi. Kebanyakan dari kita tidak mampu, dalam keadaan-keadaan semacam itu, untuk langsung bangkit dan, sebagai gantinya, memikirkan sesuatu yang berguna atau menggembirakan.

Bagi banyak orang dalam masyarakat Barat, bagian terburuk dari minggu adalah hari Minggu pagi antara pukul 10 dan siang. Bagi mereka yang tidak pergi beribadah secara teratur rentang waktu ini adalah bagian minggu yang paling kurang terstruktur, tanpa tuntutan-tuntutan eksternal untuk dipenuhi, tanpa kebiasaan-kebiasaan untuk menyalurkan perhatian kepada suatu tujuan. Orang makan pagi, membaca suratkabar atau menonton berita Minggu, lalu apa? Baru pada siang harilah kebanyakan orang membuat suatu putusan; mereka akan menyaksikan suatu permainan di TV, keluar jalan-jalan, mengecat teras belakang dsb.. Putusan itu memberi pikiran suatu arah baru, dan pemikiran-pemikiran tak menyenangkan yang telah muncul surut kembali di bawah ambang kesadaran.

Ironis, kebanyakan orang yang bekerja mengalami suatu keadaan pikiran yang lebih menyenangkan pada pekerjaan daripada di rumah. Pada pekerjaan biasanya jelas apa yang perlu dikerjakan, dan ada keterangan jelas tentang seberapa baik kita bekerja. Namun sedikit orang akan rela bekerja lebih banyak dan mempunyai lebih sedikit waktu senggang bebas. Mereka yang rela melakukannya dikasihani sebagai “gila kerja” (workaholic). Yang umumnya tak teperhatikan adalah fakta bahwa kerja yang kita ingin hindari sebenarnya lebih memuaskan daripada waktu senggang yang kita coba mendapatkan lebih banyak.

Ada suatu penjelasan yang masuk akal bagi kondisi ini juga. Seandainya kita bisa puas hanya duduk sendirian dan memikirkan pemikiran-pemikiran yang menyenangkan, siapa yang akan keluar mencari nafkah? Atau berkendara dua jam di jalan raya yang macet ke tempat kerja? Mungkin lebih baik bahwa kita memerlukan input eksternal yang tertib untuk menjaga pikiran tetap waras; dengan begini kita memastikan suatu kesepadanan antara realitas obyektif dan subyektif.

Seandainya kita bisa memimpikan khayalan-khayalan memuaskan tak memandang apa yang terjadi di luar kepala kita, kita akan tersandung masalah. Seandainya membayangkan bercinta terasa seenak bercinta yang sebenarnya, kita akan segera berhenti mendapatkan anak-anak. Jadi fakta bahwa pikiran mengalami kekacauan yang tak menyenangkan ketika tidak digunakan dalam tindakan yang diarahkan oleh suatu tujuan adalah suatu ciri keselamatan yang penting.

Ada 2 jalan menghindari aliran acak kesadaran yang biasanya dialami sebagai suatu perasaan kecemasan atau kejenuhan yang menyakitkan. Satu adalah memberlakukan tertib pada pikiran dari luar. Dengan terlibat dalam sebuah tugas, atau dengan berbicara dengan orang lain, atau bahkan dengan mengikuti sebuah acara TV, kita menyusun perhatian kita dan bisa mengikuti suatu pola yang kurang lebih linier. Cara lain untuk mencapai tertib adalah mengembangkan suatu disiplin diri yang memungkinkan kita berkonsentrasi atas pilihan atau kemauan. Ini jauh lebih sulit, dan memakan waktu bertahun-tahun bagi para ahli ibadah, meditator, yogis, seniman, dan cendekiawan untuk belajar cara melakukannya.

Dalam kedua cara itu, pikiran tidak akan masuk ke dalam pola-pola pengalaman tertib dan menyenangkan kecuali kita mengeluarkan energi untuk memberi bentuk pada kesadaran. Ada banyak cara mencapai tujuan ini, tetapi semuanya menyangkut mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang dipilih secara pribadi. Ini bisa berupa melatih tubuh melalui jogging, yoga, atau seni beladiri; mengembangkan hobi-hobi seperti pertukangan kayu, melukis, atau memainkan alat musik; atau mengambil kegiatan-kegiatan mental terfokus seperti sembahyang, membaca Alquran, mengerjakan matematika, atau menulis puisi. Segala kegiatan penuh-maksud yang membutuhkan ketrampilan akan mencegah kekacauan menguasai pikiran.

Jadi, sumber-sumber kesenangan (entah itu berupa sebuah benda/artifak atau suatu kegiatan) berawal dari pikiran sebagai cara untuk memberi tertib atau struktur pada sifat alaminya yang acak dan kacau. Begitulah kita menciptakan mim-mim kesenangan.

Share: