Hiperkonsumerisme | Forum

Hendy Kusmarian
Hendy Kusmarian Nov 23 '17
Hiperkonsumerisme atau hiperkonsumsi adalah konsumsi barang untuk tujuan-tujuan non-fungsional dan tekanan besar yang terkait untuk mengonsumsi barang-barang itu yang diberikan oleh masyarakat kapitalis modern, karena barang tersebut membentuk identitas seseorang. Frenchy Lunning mengartikannya dengan ringkas sebagai "konsumerisme demi konsumsi." Dalam masyarakat yang hiper-konsumtif, "setiap pengalaman sosial diperantarai oleh mekanisme pasar", karena pertukaran pasar telah menyebar ke lembaga-lembaga di mana mereka berperan lebih kecil (jika ada) sebelumnya, seperti universitas.

Hiperkonsumerisme didorong oleh merek-merek, karena orang sering membentuk keterikatan mendalam pada merek-merek produk, yang memengaruhi identitas orang, dan yang menekan orang untuk membeli dan mengonsumsi barang mereka.

Karakteristik lain hiperkonsumerisme adalah pengejaran tetap terhadap hal baru, yang mendorong konsumen untuk membeli yang baru dan membuang yang lama, yang terlihat terutama dalam mode, di mana siklus hidup produknya bisa sangat pendek, yang kadang diukur dalam beberapa minggu saja.

Dalam hiperkonsumerisme, barang sering merupakan simbol status, karena orang membelinya tidak sebegitu untuk menggunakannya, dibandingkan untuk menampilkannya kepada orang lain, yang mengirimkan makna yang terkait (seperti menampilkan kekayaan). Namun, menurut teori lain, kebutuhan untuk mengonsumsi dalam masyarakat hiper-konsumsi kurang digerakkan oleh persaingan dengan orang lain daripada oleh kesenangan hedonis mereka sendiri.

Hiperkonsumerisme juga telah dikatakan memiliki ciri-ciri religius, dan telah dibandingkan dengan suatu agama baru yang mengabadikan konsumerisme di atas segalanya, dengan unsur-unsur kehidupan religius digantikan oleh kehidupan konsumeris: (pergi ke) tempat ibadah digantikan oleh (pergi ke) mal belanja, orang-orang suci digantikan oleh selebriti, keselamatan diganti dengan kebebasan belanja, keinginan untuk kehidupan yang lebih baik setelah kematian digantikan oleh keinginan untuk kehidupan yang lebih baik di masa sekarang, dan seterusnya. Mark Sayers mencatat bahwa hiperkonsumerisme telah mengomersialkan banyak simbol keagamaan, memberi contoh simbol keagamaan yang dipakai sebagai perhiasan oleh orang-orang yang tidak beriman.

Hiperkonsumerisme telah dikaitkan dengan homogenisasi budaya, globalisasi, Eurocentrism, modernisasi Eurosentris, dan akibatnya, penyebaran budaya Barat. Ia telah disalahkan atas permasalahan lingkungan karena penggunaan berlebihan atas sumber daya yang terbatas. Ia dipandang sebagai suatu gejala pembangunan berlebihan.

Share: