Kesenangan dan Ketagihannya | Forum

Hendy Kusmarian
Hendy Kusmarian Dec 12 '17
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Kesenangan menggambarkan golongan luas keadaan-keadaan mental yang dialami manusia dan hewan lain sebagai positif, menyenangkan, atau layak dicari. Ini mencakup keadaan-keadaan mental yang lebih spesifik seperti kebahagiaan, hiburan, ekstasi atau sukacita, dan euforia. Dalam psikologi, prinsip kesenangan menggambarkan kesenangan sebagai mekanisme umpan balik positif, yang memotivasi organisme untuk menciptakan ulang di masa depan situasi yang baru saja dirasakannya menyenangkan. Menurut teori ini, organisme secara serupa termotivasi untuk menghindari situasi-situasi yang telah menyebabkan rasa sakit di masa lalu.

Pengalaman kesenangan adalah subjektif dan individu berbeda akan mengalami jenis dan jumlah kesenangan yang berbeda dalam situasi yang sama. Banyak pengalaman yang menyenangkan berhubungan dengan memuaskan dorongan-dorongan biologis dasar, seperti makan, olahraga atau seks. Pengalaman-pengalaman menyenangkan lainnya berhubungan dengan pengalaman-pengalaman dan dorongan-dorongan sosial, seperti pengalaman prestasi, pengakuan, dan pelayanan. Apresiasi artefak dan kegiatan budaya seperti seni, musik, dan sastra sering menyenangkan.

Kemajuan berarti telah dibuat dalam memahami mekanisme-mekanisme otak yang mendasari kesenangan. Salah satu penemuan penting dibuat oleh Kent Berridge yang telah menunjukkan bahwa kesenangan bukan suatu pengalaman tersendiri. Sebaliknya, kesenangan terdiri dari beberapa proses otak termasuk menyukai, menginginkan dan belajar.

Penggunaan narkoba bisa menyenangkan: beberapa obat, terlarang dan tidak, langsung membuat euforia dalam otak manusia ketika ditelan. Kecenderungan alami pikiran untuk mencari lebih banyak dari perasaan ini (seperti yang dijelaskan oleh prinsip kesenangan) dapat menyebabkan ketergantungan dan kecanduan. Berridge dan Robinson telah mengusulkan bahwa hasil kecanduan diakibatkan dari narkoba yang membajak sistem ‘menginginkan’ melalui pemekaan sistem dopamin mesolimbik.

Kesenangan, menurut pengertian evolusi, adalah suatu pengalaman yang dirasakan saat kita melakukan sesuatu yang pada masa lalu telah berguna untuk kelangsungan hidup. Kesenangan adalah hasil dari perangsangan kimiawi atas reseptor-reseptor syaraf yang sesuai, biasanya oleh zat-zat yang si organisme telah butuhkan untuk perfungsian optimal.

Contohnya, ketika para leluhur amat jauh kita hidup di laut, tubuh mereka menjadi teradaptasi dengan suatu lingkungan asin. Meskipun ras manusia telah hidup di darat selama berjuta-juta tahun, ia masih membutuhkan pasokan tetap garam untuk mengisi keseimbangan fisiologis dari tubuh, memelihara metabolisme air internal, dan menjaga potensi listrik lintas selaput-selaput sel yang diperlukan bagi jantung untuk memompa darah. Seiring waktu, rasa garam telah menjadi menyenangkan, suatu adaptasi mujur yang memastikan bahwa kita akan mencari-carinya dan mengonsumsi jumlah yang perlu.

Ini dulu bagus dalam lingkungan-lingkungan di mana garam jarang. Para pedagang membawa timbunan-timbunannya sepanjang jarak-jarak yang jauh dan menukarnya dengan gading dan logam-logam mulia; perang-perang dilakoni untuk mendapatkan lebih banyak garam; tambang-tambang garam adalah di antara harta-harta paling berharga dari kekaisaran-kekaisaran awal. Karena garam saat itu begitu mahal, sulit untuk mengalami overdosis. Kesenangan dari rasa asin dengan rapi diimbangi oleh kelangkaannya.
Tetapi, seiring nenek moyang kita belajar mengekstraksi dan memadatkan garam secara lebih efisien, garam menjadi lebih segera tersedia dan karena itu lebih murah. Kini satu kemasan keripik kentang bisa memberikan lebih banyak garam daripada makanan-makanan masa lalu yang terkandung dalam banyak hari. Garam masih terasa enak, tetapi kini kita mengonsumsinya terlalu banyak sehingga membahayakan kesehatan kita dalam prosesnya.

Pola yang sama berlaku untuk lemak-lemak, gula, alkohol, dan zat-zat lain yang bisa dengan mudah menjadi adiktif. Karena dahulu zat-zat itu baik bagi kita, kita belajar untuk menyukainya. Tetapi setelah kedatangan budaya, kondisi-kondisi mulai berubah lebih dan lebih pesat, dan pusat-pusat kesenangan dalam otak tidak punya waktu untuk beradaptasi. Dalam hanya satu periode 40-tahun setelah 1860, produksi gula dunia total meningkat 500%. Dan sampai tahun 1990 ada sekitar 17,7 juta warga Amerika dengan permasalahan alkohol, dan 9,5 juta pemakai kronis obat-obatan terlarang.

Gen-gen kita tidak punya waktu untuk belajar bahwa terlalu banyak garam, gula, kokain, atau alkohol adalah tidak sehat. Karena gen-gen tak pernah harus khawatir tentang adanya terlalu banyak dari zat-zat ini sebelumnya, tiada pertahanan telah dibangun melawan kelebihan atau overdosis.

Akibatnya, kesenangan menjadi suatu panduan menyesatkan pada perilaku. Kesenangan telah menipu kita dari berperilaku yang seharusnya atau pada tempatnya.

Yang berlaku bagi zat-zat kimia juga berlaku bagi perilaku-perilaku yang menyenangkan karena ia membantu kelangsungan hidup, tetapi bisa menjadi berbahaya jika ia terlalu diumbar. Antropolog Lionel Tiger mengatakan bahwa seks, pengamalan dominasi dan kekuasaan, dan pergaulan sosial semuanya menyenangkan karena hal-hal ini membantu kelangsungan hidup pada masa lalu.

Contohnya, seorang Zaman Batu penyendiri akan telah kesulitan menemukan jodoh yang dengannya ia bisa menghasilkan anak, dan akan segera dilahap oleh kucing-kucing besar yang berkeliaran di savanah. Hanya orang-orang yang merasakan kesenangan dalam pertemanan kelompok, dan tak pernah tersesat jauh dari orang-orang lainlah, yang bertahan hidup.

Jadi kita semua turun dari nenek moyang yang ekstrovert—mereka yang bertahan hidup—dan otak kita terjalin untuk mengalami kesenangan saat bersama orang-orang lain. Tetapi sikap gaul, seperti perilaku-perilaku adaptif berguna lainnya, dalam masa kita sendiri bisa dengan mudah dilakukan secara berlebihan (tidak pada tempatnya) dan lalu menjadi tidak sehat.

Evolusi nampaknya telah memberi kita suatu mekanisme efisien untuk membuat kita melakukan apa yang baik bagi kita—pengalaman kesenangan. Tetapi untuk menghemat usaha (dan evolusi adalah selalu soal menghemat usaha, karena entropi atau potensi kekacauan begitu kuat dan energi begitu sulit diperoleh), evolusi tidak memberikan suatu mekanisme pelengkap untuk menginderai suatu jalan tengah dan menghindari ekses atau kelebihan.

Ketagihan Pada Kesenangan

Kepercayaan berlebihan pada kebijaksanaan tubuh adalah berbahaya. Inilah yang menjelaskan mengapa ketagihan makan atau makan berlebihan dsb. membahayakan perjalanan evolusi semesta. Nenek moyang kita telah berulang-ulang berganti dari mempercayai pikiran-pikiran mereka ke mempercayai indera-indera mereka. Sosiolog Pitirim Sorokin telah menggambarkan perubahan-perubahan dalam pandangan-dunia ini dalam riset-risetnya tentang sejarah kebudayaan, yang dia lihat sebagai berganti-ganti antara fase-fase gagasan (atau yang diatur-nilai) dan fase-fase inderawi (atau yang diatur-kesenangan).

Dalam era silam kita telah saksikan satu transisi, yang berawal di awal abad ke-20, mengambil momentum setelah Perang Dunia I, semakin cepat setelah Perang Dunia II, dan mencapai puncaknya pada akhir 1960-an.

Fase indrawi pada 1990-an ditandai oleh legitimasi yang meningkat atas materialisme (orang-orang mungkin sebelumnya sama berorientasi materi, tetapi sedikit yang mau mengakuinya terang-terangan), penolakan berangsur terhadap represi-represi perilaku dan kaidah-kaidah moral yang dilihat sebagai munafik, kehilangan keimanan pada nilai-nilai permanen, sikap mencintai diri sendiri, dan pencarian tanpa-malu terhadap kepuasan inderawi.

Satu rumusan populer dari pandangan-dunia ini adalah “falsafah Playboy” yang dicetuskan oleh Hugh Hefner, penerbit dari majalah pertama yang terdistribusi luas dari zaman inderawi baru. Falsafah ini menemukan gayung bersambut dalam banyak sekte, terapi, dan gaya hidup yang telah mencuat di Pesisir Barat AS selama dua generasi terakhir dan yang memuji capaian tanpa-batas dari potensi-potensi manusia.

Pesan dasar dari gerakan Playboy adalah bahwa kita perlu melakukan apa yang terasa enak, karena tubuhlah yang paling tahu. Segala usaha untuk mencampuri kesenangan dicurigai, bagian dari suatu persekongkolan untuk membuat hidup kita lebih sengsara.

Tesis ini tak akan telah membuat banyak perubahan selama ia tetap suatu “filsafat”. Tapi ia bertepatan dengan suatu periode sejarah di mana banyak dari ajaran-ajarannya bisa sesungguhnya dilaksanakan. Kelimpahan materi terus bergulir maju. Mobil-mobil, kontrasepsi, bak-bak panas, dan berbagai kenyamanan hidup memungkinkan banyak orang untuk merasa bahwa mereka memang bisa memuaskan setiap dorongan hati tanpa takut akan konsekuensi-konsekuensi.

Namun, seperti nyatanya, ada banyak bukti yang mengisyaratkan bahwa tubuh kita tidak tahu apa yang baik baginya. Makin banyaknya pecandu narkoba, alkohol, korban penyakit-penyakit menular seksual, kehamilan tak diinginkan, dan pemakan berlebihan menunjukkan bahwa melakukan apa yang terasa baik dan enak bisa dengan mudah menyebabkan perasaan yang sangat buruk. Tikus-tikus yang punya pilihan antara makan atau merangsang secara elektrik pusat-pusat kesenangan dari otak mereka akan memilih perangsangan itu dan mati kelaparan. Monyet-monyet yang ketagihan heroin akan bekerja sampai mereka mati kecapekan untuk mendapat dosis lagi. Perilaku serupa di jalan-jalan kota kita menunjukkan betapa mudahnya otak tunduk pada kesenangan.

Hedonisme

Hedonisme adalah paham yang berpendapat bahwa kesenangan dan kebahagiaan adalah barang intrinsik utama atau paling penting dan tujuan yang layak dari hidup manusia. Seorang hedonis berusaha memaksimalkan kesenangan bersih (kesenangan dikurangi rasa sakit). Hedonisme etis adalah gagasan bahwa semua orang berhak melakukan segala yang dalam kuasa mereka untuk mencapai jumlah kesenangan terbanyak yang mungkin bagi mereka. Ini juga gagasan bahwa kesenangan setiap orang perlu jauh melampaui jumlah rasa sakit mereka. Hedonisme etis konon telah dimulai oleh Aristippus dari Kirene, seorang murid Sokrates. Dia berpikir bahwa kesenangan adalah kebaikan tertinggi.

Hedonisme adalah sub-filsafat utilitarianisme, yang mengatakan untuk bertindak dengan cara yang memaksimalkan utilitas (kegunaan). Kaum hedonis menyamakan kesenangan dengan utilitas dan percaya bahwa kesenangan adalah tuan dari semua manusia, dan bertindak sebagai tujuan hidup tertinggi. Hedonis percaya bahwa hanya ada dua motivator tindakan, kesenangan dan rasa sakit, dan bahwa keputusan hanya boleh diambil yang memajukan pengalaman kita yang menyenangkan dan meminimalkan atau menghilangkan sepenuhnya pengalaman derita kita.

The Forum post is edited by Hendy Kusmarian Dec 13 '17
Share: